Balapan Bisnis Menara Telekomunikasi

Persaingan di bisnis menara kian memanas. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)  mengakuisisi menara PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) sebanyak 3000 menara pada April 2021. Begitu juga dengan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR)  melalui anak usahanya, Protelindo, akan mengakuisisi 90% saham PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) dengan tambahan kepemilikan menara TOWR sebanyak 6,422 menara. Begitu juga dengan PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel), anak usaha TLKM, akan melakukan Initial Public Offering (IPO) pada tahun ini. Hal ini akan menambah persaingan dalam bisnis menara. Kali ini tim Cuanderful akan membahas dua emiten menara yang telah listing di bursa efek Indonesia, TBIG dan TOWR. Mari kita telusuri bagaimana prospek bisnis menara pada pembahasan berikut!

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) merupakan dua emiten pemimpin pasar di bisnis penyewaan menara telekomunikasi. TBIG listing pada tanggal 26 Oktober 2010 dan TOWR pada 8 Maret 2010. Pelanggan kedua emiten ini berasal dari berbagai perusahaan provider di Indonesia seperti PT Telekomunikasi Selular, PT Indosat Ooredoo Tbk, PT XL Axiata Tbk, PT Hutchison 3 Indonesia, dan PT Smartfren Telecom Tbk.

Gambar : Kinerja Emiten Semester I 2021

Pada semester I 2021, TBIG mencatatkan pendapatan sebesar Rp 2.97 tiliun, naik 15% dibandingkan dengan tahun lalu pada semester yang sama. Laba bersih TBIG ikut terkerek naik sebesar 29%, yaitu sebesar Rp 0.66 triliun dari Rp 0.51 triliun pada tahun lalu. TOWR juga mencatatkan kenaikan pendapatan pada semester ini sebesar 8% dengan pendapatan sebesar Rp 3.97 triliun. Begitu juga dengan laba bersih TOWR yang naik 30% yaitu mencatatkan pendapatan sebesar Rp 1.69 triliun pada semester ini.

 

Gambar : Ekuitas dan Liabilitas

Pertumbuhan liabilitas diikuti oleh pertumbuhan ekuitas. Besarnya liabilitas TBIG dan TOWR disebabkan oleh utang/pinjaman yang digunakan untuk melakukan ekspansi salah satunya untuk pembelian menara. Tingginya ekuitas TOWR tahun 2016 diakibatkan oleh naiknya saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.

Gambar : Pendapatan dan Laba Bersih

Pendapatan TBIG terus tumbuh dari tahun-ketahun. Begitu juga laba bersih yang mulai tumbuh sejak tahun 2018. Tingginya laba bersih pada tahun 2016 dan 2017 diakibatkan adanya penangguhan pembayaran pajak pada tahun tersebut. Begitu juga dengan TOWR, pendapatan terus tumbuh sejak tahun 2016 dan diikuti oleh pertumbuhan laba bersih. Tingginya laba bersih pada tahun 2016 diakibatkan oleh penurunan beban pendapatan pokok yang signifikan.

Gambar : Current Ratio dan Debt to Equity Ratio

Kesehatan finansial perusahaan dapat dilihat dari Current Ratio (CR) atau rasio lancar dan Debt to Equity Ratio (DER) atau rasio utang terhadap ekuitas. Rasio lancar TBIG saat ini sebesar 0.32x. Selama 5 tahun kebelakan CR selalu berada dibawah 1x yang artinya seluruh aset lancar belum bisa menutupi liabilitas lancarnya. Begitu juga dengan TOWR yang memiliki rasio lancar sebesar 0.44x yang belum bisa menutupi liabilitas lancarnya. Jika dilihat dari sisi DER, pada tahun 2016 DER sempat berada pada angka 12.15x dan saat ini secara year to date (ytd) sebesar 3.17x. Artinya dari sisi utang, TBIG mengalami perbaikan. Dilain sisi, TOWR dibandingkan tahun 2016, DER mengalami peningkatan. Saat ini DER TOWR sebesar 1.66x. Secara CR dan DER, TOWR memiliki finansial yang lebih baik ketimbang TBIG. Pada bulan Agustus 2021 TOWR kembali menambah utang baru guna melakukan belanja modal. Begitu juga dengan TBIG yang menerbitkan obligasi yang bertujuan untuk menambal utangnya.

Tentu kita bertanya-tanya. Kenapa hutang mereka besar sekali? Bisnis menara yang termasuk memerlukan modal besar sehingga utang pun besar, menariknya hal ini seakan wajar oleh pasar. Kenapa bisa seperti itu? Salah satunya adalah jaminan mendapatkan pendapatan dari pelanggan. Seperti yang kita tahu bahwa pelanggan dari suatu menara normalnya akan ada kontrak jangka panjang, sehingga recurring income per tahunnya pun seakan terjamin. Ini yang menyebabkan emiten tower ini seolah tidak masalah jika memiliki utang besar.


Gambar : Operating Cash Flow dan Free Cash Flow

Operating Cash Flow (OCF) dan Free Cash Flow (FCF) idealnya bernilai positif karena menggambarkan seberapa baik perusahaan melakukan operasional bisnisnya. TBIG sejak 2016 konsisten mempertahankan OCF dan FCF bernilai positif. Namun pada semester I 2021 FCF TBIG bernilai negatif disebabkan oleh belanja modal (capex) sebesar Rp 4.4 triliun. Sedangkan TOWR sejak 2020 kembali memiliki FCF positif dan cenderung meningkat sepanjang semester I 2021.

Dengan adanya pandemi Covid-19, masyarakat telah mengadopsi gaya hidup yang baru. Banyak kegiatan yang mulai dilakukan hanya dari rumah seperti bekerja, sekolah, belanja, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan naiknya permintaan layanan data oleh masyarakat. Operator komunikasi sebagai penyedia layanan data terus melakukan ekspansi salah satunya dengan melakukan penyewaan menara-menara telekomunikasi untuk mendukung layanan telekomunikasinya. Tentu ini membawa dampak kepada naiknya penyewaan menara telekomunikasi. Hadirnya jaringan 5G di Indonesia juga merupakan sentimen positif bagi emiten penyedia menara telekomunikasi. Pengembangan jaringan 5G membutuhkan infrastruktur yang kuat, salah satunya berupa menara telekomunikasi. Emiten penyewaan menara terus-menerus melakukan ekspansi dan akuisisi menara-menara telekomunikasi. Mari kita lihat pertumbuhan jumlah menara tiap emiten.

Gambar : Pertumbuhan Menara Telekomunikasi Indonesia

Pada tahun 2019, TOWR memiliki menara terbanyak dengan jumlah 19,319 menara. Mitratel, anak usaha TLKM, memiliki menara sebanyak 16,000 unit dan TBIG 15,473 menara. Hingga tahun 2021, Mitratel akan menjadi pemilik menara terbanyak dengan jumlah 28,000 menara, diikuti oleh TOWR, dan TBIG. Pertumbuhan menara ini tentu sejalan dengan permintaan layanan data yang terus meningkat. Terdapat hal menarik dalam pertumbuhan menara di Indonesia dimana tim Cuanderful memasukkan Mitratel kedalam grafik pertumbuhan menara. Hal ini dikarenakan Mitratel akan melakukan IPO yang diperkirakan pada tahun ini yang akan menambah panas persaingan bisnis antar emiten yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia.

Gambar : Tenancy Ratio

Tenancy Ratio kedua emiten mengalami pertumbuhan dari tahun-ketahun sejak 2018. Tenancy Ratio adalah rasio banyaknya penyewa menara (tenant) berbanding dengan banyaknya jumlah menara. Semakin besar nilai rasio maka semakin baik kinerja perusahaan karena tenant ratio ini akan berdampak positif pada pendapatan dan juga laba bersih perusahaan. 

Kontrak penyewaan menara telekomunikasi selama ini berada pada rentang 10 tahun, artinya dalam 10 tahun kedepan emiten-emiten menara dapat mengamankan pendapatan yang berasal dari penyewaan menara seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melakukan survei pengguna internet yang dirilis pada kuartal II 2020. Hasilnya sebanyak 196.71 juta jiwa pengguna internet Indonesia dari total populasi sebanyak 266.91 juta jiwa. Jumlah ini baru 73.7% dari total populasi. Artinya masih ada celah pertumbuhan penggunaan internet di Indonesia dimana ini akan menjadi sentimen positif bagi emiten penyedia menara.

Dengan adanya tiga perusahaan besar penyedia penyewaan menara menjadikan ketiga perusahaan tersebut harus bersaing satu sama lain. Persaingan antar ketiga perusahaan ini selain secara kualitas penyediaan menara tentu juga bersaing dalam hal harga penyewaan.

Bagaimana bisnis menara ini menurut kamu? Masuknya Mitratel di bursa tentu akan memberikan warna baru ke persaingan emiten menara ini. Apapun itu jawabannya, just don’t forget to do your homework!


Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *