Menerka Arah Bisnis ISAT Pasca Merger

Pada 16 September 2021 PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) dan PT Hutchison 3 Indonesia (H3I) mengumumkan akan merger menjadi PT Indosat Hutchison Ooredoo Tbk. Proses merger diperkirakan akan rampung pada tahun ini. Nilai transaksi merger ini diklaim mencapai US$ 6 miliar. Aksi merger ini merupakan sebuah gebrakan besar bagi kedua perusahaan dimana keduanya berada di segmen yang sama, yaitu operator seluler. Pada tahun ini ISAT telah melakukan penjualan menara telekomunikasi kepada PT EPID Menara Assetco sebanyak 4,247 tower telekomunikasi dengan nilai transaksi sebesar Rp 11 triliun. Apakah merger dengan H3I serta melakukan penjualan menara menjadi sebuah indikasi bahwa ISAT akan mulai berfokus pada lini bisnis operator seluler? Mari kita bahas!

PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) didirikan pada tahun 1967 oleh pemerintah Indonesia sebagai perusahaan penyedia layanan telekomunikasi internasional di Indonesia. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1969. Pada tahun 1994 perusahaan listing di Bursa Efek Indonesia dan New York Stock Exchange. Awalnya Indosat adalah Badan Usaha Milik Negeri (BUMN), namun pada tahun 2002 pemerintah Indonesia melakukan divestasi dengan menjual kepemilikan sahamnya. Pada tahun 2013 ISAT resmi delisting dari Bursa NYSE. Saat ini ISAT menyediakan layanan seluler, multimedia, internet, dan komunikasi data (MIDI) serta layanan komunikasi tetap.

Di lain sisi, PT Hutchison 3 Indonesia didirikan pada bulan Maret 2000 dengan nama PT Telindo Inti Nusa. Perubahan nama menjadi PT Hutchison 3 Indonesia dilakukan pada tahun 2013. Lini bisnis perusahaan dibidang telekomunikasi yang menyediakan layanan-layanan telekomunikasi seluler kepada para konsumen dan bisnis-bisnis. 

Semester I tahun ini ISAT mencatatkan kinerja positif dengan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 14.98 triliun. Pendapatan ini naik 11.4% jika dibandingkan dengan semester I 2020. Kenaikan signifikan terjadi pada laba bersih yaitu berbalik untung Rp 5.6 triliun. Sebagai perbandingan, tahun lalu ISAT mengalami kerugian sebesar Rp 341 miliar. Namun, sebenarnya laba bersih ini ditopang oleh hasil dari penjualan menara telekomunikasi sebanyak 4,247 tower pada tahun ini. Pendapatan dari penjualan menara sebesar Rp 6.2 triliun. Sehingga jika kita keluarkan pendapatan dari menara maka laba bersih ISAT maka sebenarnya ISAT masih mengalami kerugian sebesar Rp 569 miliar. Tak ada bedanya dengan tahun lalu, bahkan kerugian membesar. Perhatikan gambar dibawah ini!

Gambar : Pendapatan, Pendapatan per Segmen, Beban Usaha, dan Laba Bersih

Data pendapatan diatas adalah data dimana tidak menyertakan pendapatan dari penjualan menara telekomunikasi. Jika dilihat dari pendapatan per segmen, terdapat kenaikan di semua segmen. Segmen seluler mengalami kenaikan sebesar 11.3%, naik dari Rp 11.14 triliun pada tahun lalu menjadi Rp 12.40 triliun pada semester I 2021.Segmen seluler ini menopang sebesar 83% dari total pendapatan ISAT. Segmen MIDI naik dari Rp 2.04 triliun menjadi Rp 2.30 triliun atau naik 12.8%. Begitu juga segmen telekomunikasi tetap yang mengalami kenaikan walaupun hanya tipis yaitu sebesar 3.3% dari Rp 0.27 triliun menjadi Rp 0.28 triliun. Naiknya pendapatan ini dibarengi dengan naiknya beban usaha sebesar 14% sehingga berpengaruh kepada naiknya rugi bersih semester ini. Namun laba (rugi) bersih semester ini terbantu karena penjualan menara  telekomunikasi sehingga laba berbalik dari rugi sebesar Rp 570 miliar menjadi untung sebesar Rp 5.6 triliun seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Gambar : Pendapatan dan Laba Bersih 6 Tahun Terakhir

Jika dilihat secara historis, pendapatan dan laba bersih ISAT tidak konsisten. Tahun 2017 merupakan pendapatan tertinggi ISAT sepanjang sejarah dengan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 29.93 triliun. Namun tahun berikutnya pendapatan ISAT kembali turun menjadi Rp 23.14 triliun diikuti dengan rugi bersih sebesar Rp 2.4 triliun. Dalam 6 tahun terakhir ISAT tidak konsisten menghasilkan laba sehingga secara historis, performa ISAT tak begitu bagus.

Tabel  : Pendapatan dan Laba (Rugi)

Bagaimana pendapatan H31? Berdasarkan keterbukaan informasi ISAT, pendapatan H3I pada kuartal I 2021 sebesar Rp 3.3 triliun dan rugi bersih sebesar Rp 1.7 triliun. Secara historikal, pendapatan mengalami kenaikan sejak 2018, namun H3I masih konsisten mengalami kerugian dari tahun-ketahun. Salah satu penyebabnya adalah beban usaha yang besar.

Gambar : Proforma Laporan Keuangan

Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, posisi proforma laporan keuangan perusahaan pada 31 Maret 2021 seperti pada gambar diatas. Aset ISAT sebesar Rp 62.9 triliun dan H31 sebesar Rp 50.4 triliun. Proforma penyesuaian aset kedua perusahaan diperkirakan sebesar Rp 100.9 triliun. Hal menarik pada H31, liabilitas sangat besar bahkan melebihi nilai asetnya dan melebihi liabilitas ISAT sendiri. Hal ini pun berimbas kepada nilai ekuitas H3I yang menjadi negatif. Dengan mergernya kedua perusahaan ini, jelas secara laporan keuangan, H3I akan membebani keuangan ISAT sehingga ISAT sebenarnya tak begitu diuntungkan. Walaupun secara proforma, penggabungan kedua perusahaan ini akan menaikkan ekuitas perusahaan menjadi Rp 23.5 triliun.Proforma liabilitas juga akan naik menjadi Rp 77.5 triliun.

Gambar : Jumlah Pengguna Berdasarkan Operator 2019

H3I berfokus pada segmen seluler, sedangkan ISAT memiliki beberapa segmen untuk menghasilkan pendapatan pada perusahaan, namun segmen seluler masih menjadi penopang terbesar pendapatan ISAT. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika tentang jumlah pengguna berdasarkan operator tahun 2019, Telkomsel menjadi pemimpin pasar dengan 171.1 juta pengguna. Ini menempatkan telkomsel sebagai penguasa pasar dengan menguasai sebesar 52%, diikuti oleh Indosat 59.3 juta pengguna, XL 56.7 juta pengguna, dan H31 sebanyak 30.4 juta pengguna. Tahun 2020, pengguna Indosat tumbuh menjadi 60.3 juta pengguna sedangkan H3I tumbuh menjadi 44 juta pengguna. Dengan mergernya kedua perusahaan, tentu akan memperbesar pangsa pasar seluler dan ISAT akan naik menjadi penguasa pasar kedua setelah telkomsel. ISAT dapat lebih fokus dalam meningkatkan dan mengembangkan layanan selulernya. Selain itu, penggabungan kedua perusahaan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi perusahaan terutama efisiensi pada beban usahanya. Efisiensi pada situs-situs ganda yang saling tumpang tindih sehingga dapat mengoptimalkan kapasitas jaringan. Perusahaan juga dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan produk serta inovasi-inovasi baru. 

Menarik memang jika ada dua perusahaan pada bidang yang sama melakukan merger. Tentunya pihak manajemen telah memiliki rencana dan proyeksi tentang apa sebenarnya tujuan merger tersebut. Mari sama-sama kita lihat bagaimana nantinya perkembangan perusahaan setelah merger. Apakah menjadi semakin baik atau malah sebaliknya. Berdasarkan performa historikal, belum ada yang istimewa jika penggabungan ini tidak diiringi efisiensi. Jadi bagaimana arah perkembangan bisnis ISAT setelah merger menurut sobat Cuan?


Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.

2021 © Cuanderful Indonesia

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *