Menilik Prospek Emiten Konstruksi pada Semester II 2021
Konstruksi menjadi salah satu dari sekian banyak sektor yang terkena dampak cukup parah dengan adanya pandemi covid-19. Salah satu indikatornya adalah kinerja emiten konstruksi yang turun. Tentu tidak hanya kinerjanya saja, harga saham emiten-emitennya pun ikut turun sejalan dengan kinerjanya yang memburuk. Harga saham emiten konstruksi sudah terkoreksi cukup dalam sepanjangan tahun 2021 setelah rebound dari titik terendahnya pada tahun lalu. Apakah ini merupakan kesempatan yang bagus untuk mulai mengoleksi emiten konstruksi dikarenakan harganya yang sudah cukup murah? Mari kita bahas!
Gambar : Pergerakan Harga Saham Emiten-Emiten Konstruksi
Kali ini tim Cuanderful memilih enam emiten sebagai pembahasan yaitu Wijaya Karya Tbk (WIKA), Waskita Karya Tbk (WSKT), Adhi Karya Tbk (ADHI), PP Tbk (PTPP), Wijaya Karya Gedung Tbk (WEGE), dan Total Bangun Persada Tbk (TOTL).
Terlihat dari gambar bahwa WIKA mengalami koreksi paling dalam yaitu sebesar 48.61% secara year to date (ytd). Selanjutnya PTPP 46.65%, ADHI 46.58%, WSKT 40.63%, dan WEGE sebesar 26.17%. Sedangkan TOTL mengalami koreksi paling kecil yaitu sebesar 15.68%. Apakah ini sejalan dengan kinerjanya? Mari kita cek!
Gambar : Pendapatan dan Laba Bersih Semester I
Pada semester I 2021 WIKA mencatatkan pendapatan sebesar Rp 6.8 triliun atau turun 5% secara year-on-year (yoy), dengan laba bersih sebesar Rp 83 miliar atau turun 67% yoy. WSKT mencatatkan pendapatan sebesar Rp 4.7 triliun atau turun 41%, namun mencatatkan pembalikan laba bersih dari rugi menjadi untung sebesar Rp 41 miliar. PTPP dan ADHI meraih pendapatan masing-masing sebesar Rp 6.5 triliun dan 4.4 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 86 miliar dan Rp 8 miliar berurutan. WEGE dan TOTL mencatatkan pendapatan sebesar Rp 1.4 triliun dan Rp 846 miliar dengan laba bersih sebesar Rp 101 miliar dan Rp 41 miliar berurutan. Meskipun pendapatan WEGE berada jauh dibawah 4 emiten BUMN lainnya, namun WEGE mampu mencatatkan laba bersih terbesar dibandingkan dengan emiten yang lainnya.
Tabel : Rasio Profitabilitas Emiten
Profitabilitas sebuah perusahaan dapat dilihat secara sederhana melalui rasio-rasio profitabilitasnya, diantaranya Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Net Profit Margin (NPM). Rasio-rasio tersebut menunjukkan seberapa untung sebuah perusahaan.
Gambar diatas merupakan rasio profitabilitas pada semester I 2021. ROA dan ROE dihitung menggunakan Trailing Twelve Months (TTM). ROA terbesar dimiliki oleh TOTL yaitu sebesar 4.10% dan terkecil dimiliki oleh WSKT yang memiliki rasio minus. ROE terbesar dimiliki oleh TOTL dengan ROE sebesar 9.49% dan terkecil dimiliki oleh WSKT. NPM terbesar dimiliki oleh WEGE yaitu sebesar 7.44%, diikuti oleh TOTL sebesar 6.09%, PTPP 1.33%, WIKA 1.23%, WSKT 0.87%, dan yang terkecil dimiliki oleh ADHI yaitu sebesar 0.19%. Semakin besar ROA, ROE, dan NPM maka semakin profitable sebuah perusahaan.
Gambar : Target dan Realisasi Kontrak Baru
Bagus atau tidaknya proyeksi keuangan perusahaan konstruksi dapat dilihat dari nilai kontrak baru proyeknya. Hingga bulan Agustus, catatan perolehan kontrak baru TOTL sebesar 63% yaitu sebesar Rp 0.95 triliun dari target tahun ini sebesar Rp 1.5 triliun. Ini merupakan perolehan terbaik diantara lima emiten lainnya. Dilanjutkan oleh WEGE sebesar 39%, PTPP 32%. WIKA 30%, ADHI 30%, dan perolehan kontrak baru WSKT hanya sebesar 20% dari target tahun ini. Nilai kontrak terbesar dimiliki oleh WIKA yaitu sebesar Rp 11.96 triliun. WEGE dan TOTL merupakan dua perusahaan yang memiliki nilai kontrak yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan empat emiten lain. Hal ini dikarenakan kedua perusahaan tersebut lebih banyak menggarap proyek dengan nilai lebih kecil dengan waktu pengerjaan lebih singkat dibanding proyek yang digarap oleh keempat emiten lainnya.
Gambar : Rasio Lancar dan Rasio Utang terhadap Ekuitas
Kesehatan finansial sebuah perusahaan dapat dilihat dari rasio utang dan kemampuan perusahaan tersebut untuk melunasi utangnya. Kemampuan dalam melunasi utang salah satunya dapat dilihat dari rasio lancar perusahaan. Semakin besar rasio lancar maka semakin mampu perusahaan untuk menutupi liabilitas lancarnya. Rasio lancar WEGE dan TOTL masing-masing sebesar 1.56x, WIKA sebesar 1.26x, ADHI dan PTPP masing-masing sebesar 1.1x dan 1.09x, sedangkan WSKT memiliki rasio paling kecil yaitu sebesar 0.69x.
Debt to equity ratio (DER) merupakan sebuah resiko bagi perusahaan, semakin besar DER maka semakin beresiko sebuah perusahaan untuk gagal menutupi hutangnya. WSKT memiliki rasio paling tinggi yaitu itu sebesar 8.84x, sedangkan TOTL tidak memiliki utang sama sekali. Perbedaan model bisnis menyebabkan adanya perbedaan signifikan manajemen hutang perusahaan.
Kembali lagi kepada pertanyaan awal, apakah saham-saham ini sudah murah? Mari kita cek menggunakan rasio sederhana, yaitu price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV). Mari kita lihat gambar dibawah ini!
Gambar : Price to Earning Ratio dan Price to Book Value
PER dihitung menggunakan Trailing Twelve Months (TTM). ADHI mencatatkan PER tertinggi yaitu sebesar 139x, sedangkan WSKT memiliki PER -1.86x. Nilai PER minus artinya bahwa perusahaan mengalami kerugian sehingga menyebabkan rasionya berada dibawah satu. PTPP memiliki PER sebesar 31.02x, WIKA, WEGE, dan TOTL masing-masing memiliki PER sebesar 4.87x, 11.48x, dan 9.67x secara berurutan. Semakin kecil PER maka semakin murah harga saham perusahaan tersebut. Namun, dikarenakan laba perusahaan emiten konstruksi masih terkesan bias karena kondisi anomali ini, maka kita akan coba lihat dari sisi PBV nya.
Rasio PBV dari tiap-tiap emiten. PBV terbesar saat ini dimiliki oleh WSKT yaitu 1.52x, sedangkan ADHI memiliki rasio PBV terkecil yaitu sebesar 0.58x. Semakin kecil rasio PBV, maka semakin murah harga sebuah saham menurut nilai bukunya.
Setelah melihat rasio-rasio dari tiap emiten yang beragam, tentu kita dapat simpulkan bahwa secara rasio beberapa emiten dapat dikategorikan murah. Namun perlu diingat bahwa kita tidak bisa hanya menentukan murah atau tidaknya harga saham hanya menggunakan rasio tersebut. Kita perlu melihat kinerja perusahaan tersebut. Jika kinerjanya buruk, maka hal yang wajar jika harga sahamnya terus turun. Sudah dapat benang merahnya kan?
Harga saham-saham emiten konstruksi yang terus merosot sejak awal tahun disebabkan oleh kinerja perusahaan yang menurun. Kinerja perusahaan konstruksi belum kembali lagi seperti keadaan sebelum pandemi, bahkan terdapat beberapa perusahaan yang kinerjanya pada semester ini lebih buruk dibandingkan dengan semester yang sama tahun lalu. Jika kita ingin berinvestasi di emiten-emiten tersebut, kita perlu memilih secara berhati-hati. Kita perlu melihat kinerja perusahaan tersebut apakah sudah mengalami perbaikan akibat dampak dari pandemi Covid-19 atau malah sebaliknya, kinerja semakin memburuk.
Perlu Cuanvestor perhatikan, secara historikal kinerja dan harga saham emiten-emiten konstruksi terdongkrak pada semester II, terutama pada penutupan kuartal IV. Salah satunya disebabkan oleh pembayaran-pembayaran kontrak proyek yang banyak berlangsung pada akhir tahun. Pembayaran ini menyebabkan terdongkraknya pendapatan emiten-emiten konstruksi. Begitu juga dengan harga sahamnya, secara historikal harga saham konstruksi mengalami perbaikan pada penutupan tahun. Perhatikan tabel dibawah ini.
Tabel: Probabilitas Kenaikan Harga Saham dalam 5 Tahun
Tabel diatas merupakan probabilitas kenaikan harga saham dalam 5 tahun terakhir. Warna hijau menunjukkan probabilitas untuk naiknya harga saham lebih besar dibandingkan dengan penurunan harga saham. Merah menunjukkan probabilitas harga saham turun lebih besar ketimbang kenaikan harga saham, sedangkan warna abu-abu menunjukkan harga saham dalam bulan tersebut memiliki probabilitas 0% untuk naik dalam 5 tahun terakhir. Dari tabel tersebut dapat kita simpulkan bahwa pada kuartal IV, harga saham emiten konstruksi cenderung mengalami kenaikan dibandingkan dengan kuartal lainnya.
Selain itu, sentimen positif emiten konstruksi juga masih ditopang oleh besarnya alokasi anggaran infrastruktur pada tahun 2021. Pada tahun ini pemerintah menganggarkan Rp 417.4 triliun untuk infrastruktur. Anggaran tersebut merupakan anggaran infrastruktur terbesar selama 5 tahun terakhir.
So, setelah membaca seluruh pembahasan dalam artikel ini, bagaimana pendapat Cuanvestor? Apakah kinerja emiten konstruksi akan terdongkrak naik pada semester II?
Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.

Responses