FAANG Terkoreksi Dalam, Peluang atau Ancaman?
FAANG yang memiliki akronim Facebook (sekarang META), Apple (AAPL), Amazon (AMZN), Netflix (NFLX), dan Google (sekarang Alphabet) mengalami koreksi secara year to date. Beberapa emiten tersebut memang saat ini dihantui dengan sentimen negatif yang kemudian membuat harga saham terus merosot dari titik tertingginya masing-masing. Akan tetapi sebenarnya tidak hanya sentimen negatif, namun beberapa emiten tersebut memang tidak mencapai target kinerjanya masing-masing. Apa yang sebenarnya terjadi pada emiten-emiten tersebut? Mari kita bahas satu persatu!
Saham-saham di Amerika Serikat sepanjang tahun ini kebanyakan mengalami koreksi. Ini dapat kita lihat dari indeks S&P 500 dimana secara year to date mengalami koreksi sebesar 18.64% per 7 Juli 2022. Terkoreksinya indeks AS ini tentunya disebabkan beberapa hal, mulai dari ketakutan akan adanya resesi, inflasi yang cukup tinggi, dan kenaikan suku bunga The Fed, menjadi beberapa penyebab indeks saham ini terkoreksi.
Gambar : Pergerakan Harga Saham FAANG
Sejalan dengan indeks S&P 500, FAANG yang terdiri dari 5 perusahaan teknologi terpopuler dan berkinerja terbaik, juga mengalami koreksi. Terkoreksinya saham kelima perusahaan tersebut tentunya bukan tanpa sebab. Mulai dari sentimen negatif hingga turunnya pertumbuhan kinerja emiten tersebut menjadi penyebabnya.
Dimulai dari Facebook Inc. (FB), yang kini namanya berubah menjadi Meta Platforms Inc (META) merupakan perusahaan pertama dari singkatan FAANG. Harga sahamnya sudah turun -49.52% secara year to date. META kehilangan 500 ribu sampai 1 juta user aktif harian pada kuartal IV 2021, turun dari 1.93 miliar menjadi 1.92 miliar. Ini merupakan kali pertama penurunan user harian dalam 18 tahun terakhir.
Adanya penurunan ini dapat berdampak pada penurunan pendapatan META pada kuartal selanjutnya. Salah satu penyebab turunnya user harian adalah adanya persaingan dengan TikTok yang berhasil mengambil pasar video pendek. META sendiri telah mengambil tindakan dengan mengeluarkan “Reels”. Namun bukan hanya karena ada pesaing baru, kurangnya minat dari populasi lebih muda, tidak ada pasar untuk diperluas, dan kebijakan kontroversialnya terhadap privasi dan pelacakan menjadi alasan lain penurunan user harian tersebut.
Lanjut ke Apple inc. Harga saham AAPL mengalami koreksi sebesar –19.21% sejak awal tahun 2022. Banyak sentimen negatif seperti kenaikan suku bunga The Fed, melemahnya kepercayaan konsumen, tingginya inflasi, dan tantangan rantai pasokan.
Walaupun begitu, AAPL merupakan satu-satunya yang masih perform diantara yang lain. Laba bersih naik 6% dan pendapatan naik 9%, melebihi ekspektasi analis. Masalah yang dihadapi AAPL saat ini adalah terganggunya produksi iPhone, iPad, dan Mac akibat kembali lockdown-nya China. Tim Cook selaku kepala eksekutif Apple mengatakan akibat adanya kelangkaan pasokan dapat berdampak pada penurunan penjualan pada kuartal ini sebesar US$4 miliar sampai US$8 miliar.
Bagi AAPL, pandemi ini bagaikan pisau bermata dua. Disatu sisi dengan adanya pandemi permintaan alat komputasi meningkat, namun disisi lain pandemi juga mengakibatkan kelangkaan pasokan yang dapat menghambat produksi dan penjualan.
Selanjutnya kita akan membahas Amazon Inc. Harga saham AMZN per 8 Juli 2022 telah terkoreksi sebesar -32.2% secara year to date. Apa penyebabnya? Salah satu penyebabnya adalah kinerja AMZN pada kuartal I 2022 yang tidak bagus. Amazon mencatatkan kerugian pertama sejak 7 tahun terakhir pada kuartal I 2022 sebesar US$3.8 miliar, tahun lalu pada periode yang sama AMZN mencatatkan laba bersih sebesar US$8.1 miliar.
Mengapa AMZN mencatatkan hasil buruk kuartal I ini? Ada beberapa alasan mengapa kinerja AMZN buruk, pertama kegagalan investasi pada Rivian Automotive. AMZN mengambil bagian pada investasi US$700 juta untuk pickup dan SUV yang menggunakan teknologi “skateboard”. Rivian melakukan go public dan hasilnya nilai perusahaan telah turun 75% sejak melantai di bursa. AMZN mencatatkan kerugian sekitar US$7.6 miliar dari investasi di Rivian.
Penyebab kedua buruknya kinerja AMZN adalah turunnya permintaan belanja online. Ketika pandemi mulai teratasi, masyarakat mulai mengurangi ketergantungan pada belanja online yang sebelumnya menjadi primadona. Orang-orang mulai kembali ke kehidupan normal dimana belanja dilakukan secara offline atau datang ke tempat-tempat swalayan langsung. Hal ini membuat pendapatan AMZN berkurang. Ketiga, masalah rantai pasokan dan tingkat inflasi yang tinggi. Adanya kedua masalah ini membuat meningkatnya biaya bisnis yang kemudian menekan para pengecer kecil maupun besar. Untuk mengatasi ini, AMZN menerapkan biaya “bahan bakar dan inflasi” sebesar 5% kepada penjual pihak ketiga di situsnya.
Perusahaan penyedia video streaming, Netflix juga tidak ketinggalan terkait penurunan harga sahamnya. NFLX merupakan emiten yang paling dalam terkoreksi diantara yang lain yaitu sebesar -68.70% sejak awal tahun. Apa yang terjadi?
Untuk pertama kalinya NFLX mencatatkan kehilangan subscriber terbesar dalam dekade yaitu sebanyak 200 ribu subscribers dalam kuartal I 2022. Lalu apa yang menyebabkan NFLX kehilangan sangat banyak subscribernya? Pertama, adanya password sharing atau pembagian kata sandi yang memungkinkan lebih dari satu orang untuk menggunakan akun yang sama. NFLX menyebutkan ada sekitar 100 juta pengguna tambahan (saat ini ada 222 juta pengguna yang membayar) memiliki akses untuk melakukan streaming dengan menggunakan akun yang sama. Ini tentunya bisa merugikan NFLX.
Kedua, adanya kenaikan dari biaya berlangganan. Hal ini sebenarnya untuk menutupi pendapatan yang hilang dari turunnya subscribers. Namun justru hal ini dapat berdampak sebaliknya, NFLX justru dapat kehilangan lebih banyak subscribers akibat kebijakan ini. Ketiga, investor menarik dana investasinya dari NFLX. Bill Ackman, miliarder hedge fund, yang menginvestasikan US$1.1 miliar menarik kembali dana investasinya hanya dalam tiga bulan setelahnya. Hal ini disebabkan perubahan model bisnis yang tidak sesuai dengan Ackman.
Kemudian kita masuk ke perusahaan yang terakhir, yaitu Google atau Alphabet. Hingga 8 Juli 2022, harga saham GOOG telah terkoreksi sebesar -17.17%. Apa penyebabnya? Selain karena tingginya inflasi dan naiknya suku bunga The Fed, penurunan ini bisa disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan pendapatan GOOG pada kuartal I 2022. Pendapatan GOOG sebenarnya meningkat 23%, namun hal ini di bawah target yang biasanya diatas 30%. Ini kali pertamanya sejak pandemi 2020 GOOG mencatatkan pertumbuhan di bawah 30%. Laba bersih juga mengalami penurunan sebesar 8%
Kesimpulan yang dapat kita ambil saat ini adalah bahwa terkoreksinya emiten-emiten ini bukan tanpa sebab. Memang beberapa emiten mencatatkan kinerja yang bagus, namun kinerjanya masih tidak sesuai dengan target dan ekspektasi investor sehingga harga sahamnya mengalami penurunan. Lain sisi dengan emiten yang mencatatkan kerugian, hal ini adalah hal yang sangat wajar jika harga sahamnya terkoreksi akibat kinerjanya yang kurang baik, terlebih adanya kondisi eksternal yang mendukung penurunan tersebut. Secara keseluruhan, penurunan harga saham emiten-emiten tersebut adalah wajar.
Namun di lain sisi, ini merupakan kesempatan bagi kita para investor untuk mendapatkan harga saham yang cukup masuk akal untuk perusahaan kelas dunia. Perusahaan-perusahaan ini biasa diperdagangkan dengan valuasi yang sangat tinggi, namun sekarang rata-rata dari mereka mulai terkoreksi. Tinggal tugas kita memantau perkembangan, ketika ada perbaikan kinerja diikuti oleh murahnya harga saham, tentu ini kesempatan yang bisa kita ambil sebagai investor.
Ohya, kamu bingung mau mulai investasi di saham US tapi tidak tahu bagaimana?

Cuanvestor bisa gunakan Gotrade Indonesia! Aplikasi investasi saham US yang sudah legal di Indonesia, daftar sekarang menggunakan kode 493517 sewaktu daftar atau langsung klik disini agar dapat bonus saldo $2 dan tidak perlu menunggu antri daftar lama-lama✌️
Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.
Informasi Tambahan :
- Untuk kamu yang ingin menjadi trader mandiri, ikuti kelas trading dengan klik link disini!
- Untuk kamu yang ingin tahu saham pilihan tim Cuanderful untuk trading dan investing bisa ikuti membership Cuanderful+ dengan klik link disini!
2022 © Cuanderful Indonesia


Responses