Kinerja Tahun 2022 Dan Prospek UNVR 2023
UNVR baru saja merilis laporan keuangan tahun penuh 2022, hasilnya kinerja tahunan UNVR mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2021. Itu artinya penurunan kinerja tahunan UNVR masih terus berlanjut sejak tahun 2019. Bagaimana kinerja UNVR sebenarnya dan bagaimana pula prospek UNVR? Mari kita bahas!
Latar Belakang
Sebelum kita membahas kinerja tahun dan prospeknya, kita bahas latar belakang perusahaan. UNVR tentunya sudah cukup dikenal di masyarakat karena produknya yang banyak tersedia di supermarket, mini market, swalayan, dan bahkan warung kecil. UNVR ini juga dijadikan salah satu slogan kampanye “yuk nabung saham”, sehingga perusahaan UNVR sudah sangat terkenal di masyarakat. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) merupakan bagian dari Unilever Plc yang mana merupakan perusahaan multinasional yang berpusat di London, UK. Sehingga, dalam menjalankan bisnisnya UNVR juga perlu merogoh kocek untuk biaya royalti brand terhadap Unilever Plc yang saat ini sebesar 3% dari total pendapatan perusahaan.
Lini Bisnis

UNVR memiliki 2 unit bisnis besar yaitu Kebutuhan Rumah Tangga dan Perawatan Tubuh, yang berkaitan dengan produk-produk pembersih yang digunakan dalam rumah tangga dan produk-produk kosmetik serta Makanan dan Minuman, yang berkaitan dengan produk-produk makanan dan minuman termasuk es krim. Brand – brand terkenal yang dimiliki perusahaan saat ini adalah seperti Sunlight, Lifebuoy, Walls, Pepsodent dan Dove hingga Royco, Bango, Rexona, Citra, Rinso, Molto dan banyak lagi.
Kinerja Keuangan

Setelah membahas latar belakang dan lini bisnisnya, kita masuk ke pembahasan kinerja keuangannya. Pada tahun 2022 UNVR membukukan penjualan bersih sebesar Rp41.22 triliun, meningkat 4.23% dibandingkan tahun 2021. Kedua segmen penjualan mengalami kenaikan meskipun hanya naik tipis. Kenaikan penjualan ini sayangnya tidak disertai kenaikan pada laba kotor. Laba kotor mengalami penurunan sebesar 2.86%. Penurunan ini tentunya disebabkan oleh kenaikan pada beban pendapatan pokok yang jika kita telusuri lebih dalam lagi maka berasal dari kenaikan pada bahan baku. Alhasil UNVR membukukan penurunan hasil segmen dari Rp9.87 triliun pada 2021 menjadi Rp9.08 triliun pada tahun 2022.
Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan UNVR banyak menggunakan kedua komoditas pada gambar di atas, yaitu minyak mentah (crude oil) dan minyak kelapa sawit (palm oil). Kedua komoditas ini mengalami kenaikan yang cukup tinggi sejak tahun 2021 hingga tahun 2022. Hal ini kemudian membuat pengeluaran UNVR untuk bahan baku tersebut juga mengalami peningkatan, alhasil beban bahan baku meningkat.
Strategi
Perusahaan yang sudah matang sekelas UNVR tentunya tidak diam saja dengan kenaikan bahan baku yang dapat menggerus margin laba perusahaan. Manajemen telah menerapkan dua strategi utama sepanjang tahun 2022, yaitu menaikkan harga jual dan bernegosiasi dengan pemasok untuk mendapatkan harga terbaik. Harga jual produk UNVR telah mengalami kenaikan pada tahun 2022. Dengan naiknya harga jual maka akan sedikit membantu perusahaan untuk menjaga margin labanya. Akan tetapi menaikkan harga ini cukup tricky, karena jika terlalu tinggi maka konsumen dapat beralih ke produk lain. Yang kedua adalah strategi dalam pembelian bahan baku dimana UNVR membeli ke pemasok dalam jumlah yang sangat besar sehingga perusahaan dapat bernegosiasi untuk mendapatkan harga yang terbaik.
Tren Kinerja Tahunan

Sepertinya strategi yang dilakukan oleh manajemen belum mampu membuat kinerja UNVR mengalami peningkatan. Pendapatan memang sudah mengalami kenaikan, akan tetapi laba bersihnya masih mengalami penurunan. Tren penurunan laba bersih UNVR sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2018, dimana saat itu laba bersihnya mencapai titik tertinggi. Penurunan laba bersih ini sebelumnya hanya disebabkan oleh beban operasional yang tinggi seperti beban iklan dan promosi. Lalu kemudian diperparah oleh beban bahan baku yang meningkat pesat sejak tahun 2020, alhasil laba bersihnya terus tergerus sampai seperti saat ini.
Prospek
Lalu bagaimana prospeknya? Untuk saat ini tantangan kenaikan bahan baku mungkin tidak setinggi tahun 2022 lalu. Harga komoditas saat ini sudah mengalami penurunan, namun perlu diperhatikan bahwa meskipun turun, harga komoditas masih tetap tinggi. So yang harus dilakukan UNVR saat ini adalah kembali meningkatkan penjualan dan menekan beban operasional agar margin laba bersihnya dapat mengalami kenaikan. Masalahnya saat ini adalah ancaman resesi global yang mungkin dapat berdampak ke penjualan UNVR. Isu resesi dapat membuat konsumen memilih produk yang harganya lebih ekonomis dibandingkan dengan produk UNVR yang memiliki harga premium. Maka dari itu UNVR perlu melakukan inovasi-inovasi baru agar kinerja tahun ini tidak kembali mengalami penurunan.
Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, kinerja UNVR pada tahun ini kembali mengalami koreksi yang dapat kita lihat dari turunnya laba bersih perusahaan. Secara trend, UNVR belum mampu melakukan perbaikan kinerja sejak tahun 2018 dimana saat itu laba bersihnya merupakan yang tertinggi. Pada tahun 2023 ini, UNVR masih mendapatkan beberapa tantangan yang salah satunya adalah ancaman resesi global yang dapat berdampak pada tingkat konsumsi sehingga penjualan UNVR juga dapat mengalami penurunan.

Responses