SIDO Masih Cetak Laba, Kok Langsung ARB?
Harga saham SIDO mengalami auto reject bawah (ARB) pada perdagangan hari Jumat, 29 Juli 2022. Hal ini terjadi setelah SIDO merilis laporan keuangan semester I 2022-nya. Banyak yang berpendapat bahwa ARB-nya saham SIDO akibat kinerja semester I-nya yang mengalami penurunan dibandingkan tahun 2021 lalu. Jika kita lihat, memang pendapatan dan laba bersih SIDO semester I mengalami penurunan. Akan tetapi, kok bisa harga sahamnya langsung anjlok? Mari kita bahas!
Sebelum kita membahas lebih dalam tentang SIDO, mari kita kenali dulu perusahaannya. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) didirikan pada tahun 1975 pada bulan Maret. SIDO mencatatkan sahamnya untuk pertama kali di Bursa Efek Indonesia pada 18 Desember 2013 dengan harga IPO sebesar Rp580 per saham (not stock split adjusted). SIDO bergerak di bidang perindustrian jamu dan farmasi, perdagangan, pengangkutan darat, jasa, dan pertanian. Produk SIDO terbagi menjadi tiga segmen, yaitu Herbal dan suplemen, Food & Beverage, dan Farmasi. Produk yang paling terkenal dan tidak asing lagi ditelinga adalah Tolak Angin. Namun produknya tidak hanya itu, kita akan lebih banyak melihat produk SIDO jika datang ke toko aneka jamu.

Ketika IPO pada tahun 2013 lalu, harga saham SIDO tidak langsung diapresiasi pasar dengan baik, bahkan sempat turun di bawah harga IPO-nya. Padahal kinerja SIDO bagus-bagus saja. Sejak IPO, SIDO terus-menerus mencatatkan pertumbuhan laba bersih meskipun pendapatannya berfluktuasi. Harga saham SIDO baru mulai diapresiasi pasar pada tahun 2018 dan berlanjut hingga tahun ini. Apa yang menyebabkan harga saham SIDO “telat” diapresiasi pasar?
Pendapatan SIDO sejak IPO hingga tahun 2016 hanya naik sedikit karena baru kembali naik pada tahun 2016 setelah terus-menerus mencatatkan penurunan. Meskipun begitu, laba bersih SIDO selalu mengalami peningkatan. CAGR pendapatan dan laba bersih dari tahun 2012 hingga 2016 sebesar 1.7% dan 3.8% secara berurutan. Cukup kecil bukan? Apa penyebabnya?
Bisnis SIDO ini cukup tradisional karena hanya menjual jamu. Oleh karena itu perusahaan tidak melakukan ekspansi bisnis sama sekali. Selain itu, SIDO terkenal cukup royal dalam membagi dividennya. SIDO juga tidak pernah mengambil utang bank, utang obligasi ataupun private placement atau right issue sekalipun. Sehingga tidak heran pertumbuhan perusahaan cukup lambat karena beberapa hal tersebut.
Mulai tahun 2017, SIDO kembali melakukan ekspansi, yaitu mulai mengoperasikan pabrik ekstraksi dari PT Semarang Herbal Indo Plant yang menambah kapasitas dan efisiensi pabrik. SIDO juga membuka pasar ekspor melalui kantor cabang di Filipina (2017) dan subsidiary di Nigeria (2018). Dampaknya, penjualan pada 2018 meningkat 7.4% dibandingkan tahun 2017. Margin keuntungan juga mengalami peningkatan akibat adanya efisiensi pabrik dengan meng-upgrade ke pabrik yang lebih modern. Hasil kinerja positif ini terus berlanjut, pada tahun 2019 segmen ekspor telah berkontribusi sebesar 5% terhadap penjualan SIDO, dari 2% tahun 2018. SIDO terus melanjutkan ekspansi baik ekspansi pasar maupun mendiversifikasikan produknya. Pada tahun 2020, SIDO meluncurkan 16 produk baru yang semuanya dapat dibeli melalui toko online di beberapa marketplace terkenal di Indonesia.
Sejak dilakukannya ekspansi, SIDO mencatatkan pertumbuhan kinerja yang bagus. CAGR pendapatan dan laba bersih mulai tahun 2017 hingga tahun 2021 sebesar 11.8% dan 18.4% secara berurutan, naik drastis dibandingkan dengan 4 tahun sebelumnya. Tidak hanya itu, sejak tahun 2018 margin laba bersih NPM dan return on equity (ROE) selalu berada di atas 20%, pencapaian yang belum pernah didapat sebelumnya setelah IPO. Oleh karena kinerjanya yang cukup bagus ini, harga saham SIDO mulai diapresiasi sejak awal 2018 dan terus mengalami peningkatan. Dalam 5 tahun terakhir harga saham SIDO sudah naik sebanyak 268%. Hal ini juga yang kemudian membuat harga saham SIDO cukup premium. Per 29 Juli lalu, SIDO dihargai sebesar PBV 8.38x.
Lalu apa yang menyebabkan harga sahamnya tiba-tiba anjlok?
Tentunya karena laporan kinerja semester I-nya “kurang baik”. Pendapatan dan laba bersihnya turun dibandingkan tahun 2021. Ini kali pertama terjadi sejak tahun 2016. Selain itu, laba kuartal II termasuk yang terkecil sejak kuartal II tahun 2019 lalu.
SIDO adalah emiten yang memiliki kinerja sangat bagus karena meningkat dari tahun-ketahun sehingga dihargai “mahal” oleh investor. Harga sahamnya dibangun bukan saja atas kinerjanya, melainkan juga termasuk ekspektasi investor terhadap kinerjanya yang akan selalu bertumbuh. Apa yang terjadi jika tidak sesuai ekspektasi investor? Tentu saja harga sahamnya yang premium itu akan mengalami kejatuhan yang cukup dalam. SIDO bukan satu-satunya yang harga sahamnya cerminan dari ekspektasi investor, ada Facebook (META) yang sahamnya juga anjlok cukup dalam akibat kinerjanya tidak sesuai ekspektasi investor. Apakah dengan begitu prospeknya menjadi jelek? Belum tentu!
Prospek SIDO sampai saat ini masih bagus. SIDO merupakan pemimpin pasar dengan market share sebesar 72% untuk kategori masuk angin dan 40-50% untuk kategori energy drink. SIDO ini adalah pemilik produk herbal. Saat ini masyarakat sudah mulai beralih ke produk herbal karena dipercaya lebih menyehatkan. Apalagi saat pandemi, permintaan produk herbal mengalami peningkatan yang tercermin dari meningkatnya penjualan SIDO. Hanya saja kemungkinan besar pada saat pandemi permintaan obat herbal sedang mencapai puncaknya sehingga pada saat itu SIDO mencatatkan penjualan yang cukup besar. Turunnya pendapatan saat ini kemungkinan besar disebabkan oleh mulai normalnya permintaan akibat meredanya pandemi. Selain itu terdapat kenaikan pada beban pokok yang menyebabkan laba kotor mengalami penurunan.
Tapi yang harus jadi perhatian sekarang adalah valuasinya.
Karena sebelumnya market tidak masalah dengan harga premium karena kinerjanya yang luar biasa, sekarang market merasa harga premium itu sudah harus didiskonkan karena kinerjanya yang menurun, sehingga jika Anda yang baru masuk di harga atas tentu cukup beresiko karena ini.
Sehingga, harga saham yang turun kali ini akan terus berlanjut jika memang SIDO tidak segera berbenah untuk mengembalikan performa penurunan labanya, selama itu tidak bisa dilaksanakan, maka tidak ada alasan untuk para investor memberi toleransi “mahal” pada harga sahamnya. Mari kita nantikan perbaikan kinerja tersebut..
Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.
Informasi Tambahan :
- Dapatkan update seputar pasar saham gratis di channel telegram dengan klik link disini!
- Untuk kamu yang ingin menjadi trader mandiri, ikuti kelas trading dengan klik link disini!
- Untuk kamu yang ingin menjadi investor mandiri, ikuti kelas investing dengan klik link disini!
- Untuk kamu yang ingin tau saham pilihan tim Cuanderful untuk trading dan investing bisa ikuti membership Cuanderful+ dengan klik link disini!
2022 © Cuanderful Indonesia


[…] fundamental pada umumnya berfokus terhadap kinerja perusahaan yang dapat dilihat berdasarkan laporan keuangan yang dirilis setiap kuartalnya. Dari data tersebut, para investor akan menentukan apakah suatu […]