ARB Pasca RUPS, Bagaimana Kinerja dan Prospek SMDR?
Harga saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) mengalami auto reject bawah (ARB) berjilid pasca menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Rabu, 29 Juni 2022 lalu. Hal ini diperkirakan adalah salah satu bentuk kekecewaan investor terhadap keputusan dalam RUPST tersebut dimana perusahaan hanya membagikan dividen senilai Rp163.7 miliar atau setara Rp50 per saham. Dividen ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan laba perusahaan pada tahun lalu. Terlepas dari dividen yang kecil, bagaimanakan kinerja dan prospek SMDR sebenarnya? Mari kita bahas!
Gambar : Integrasi Lini Bisnis SMDR
Sekilas tentang PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), perusahaan ini didirikan pada 13 November 1964 yang mana mencatatkan saham perdana di BEI pada 5 Juli 1999. SMDR dimiliki oleh PT Samudera Indonesia Tangguh sebesar 57.98%, PT Ngrumat Bondo Utomo sebesar 14.36%, dan Masyarakat 27.66%.
Perusahaan memiliki lini bisnis yang terintegrasi, mulai dari gudang, kontainer, jasa pelabuhan, pengapalan, hingga pengiriman logistik melalui darat. Perusahaan sendiri membagi lini bisnisnya kedalam beberapa model yaitu Samudera Shipping, Samudera Ports, Samudera Logistics, Samudera Property, dan Samudera Services. Jadi bisa dibilang perusahaan ini memiliki unit bisnis dari hulu ke hilir. SMDR mengoperasikan 24 kapal di Indonesia dan sebagian besar kapal ini beroperasi di lokasi pelabuhan yang strategis yakni di Tanjung Priok dan juga di Palkaran, Samarinda.
Gambar : Profitabilitas SMDR
SMDR mengalami turn around kinerja pada tahun 2021 setelah pada dua tahun sebelumnya mencatatkan kerugian. Selain itu pada tahun 2021 perusahaan mencatatkan laba bersih yang jauh lebih besar dibandingkan laba bersih tahun-tahun sebelumnya. Laba bersih pada tahun 2021 sebesar Rp1.33 triliun, berbalik laba dari rugi pada tahun 2020. Net profit margin juga meningkat signifikan menjadi 13.8%. Salah satu penopangnya adalah naiknya pendapatan terutama pada segmen jasa pelayaran dan keagenan. Kenaikan laba bersih ini sejalan dengan kenaikan pendapatan SMDR yang tercatat sebesar US$672.9 juta atau setara Rp9.6 triliun dimana pendapatan dari segmen jasa pelayaran dan keagenan sendiri tercatat sebesar US$557.5 juta.
Lalu apa yang menyebabkan pendapatan dan laba bersih SMDR naik signifikan?
Gambar : Global Container Index
Salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga kontainer yang diakibatkan oleh kelangkaan dari kontainer itu sendiri. Kenapa bisa terjadi kelangkaan kontainer? Mari kita throwback terlebih dahulu ke masa awal pandemi terjadi. Pada tahun 2020 lalu, ketika pandemi Covid-19 sedang ganas-ganasnya, banyak negara yang menerapkan lockdown. Akibat lockdown ini, banyak aktivitas yang terhenti, salah satunya adalah aktivitas bongkar muat pelabuhan.
Kita coba buat skema tentang berhentinya aktivitas bongkar muat ini. Ketika ada sebuah kontainer yang berencana untuk melakukan pengapalan dari pelabuhan A, namun karena adanya kebijakan lockdown, pengapalan tersebut tidak bisa dilakukan. Apa yang terjadi? Kontainer tersebut akan parkir di pelabuhan. Berhentinya operasional pelabuhan A menyebabkan menumpuknya kontainer di pelabuhan tersebut. Sedangkan di pelabuhan lainnya, tidak ada kontainer sama sekali karena kontainer telah menumpuk di pelabuhan A.
Ketika kebijakan lockdown dicabut, pandemi Covid-19 mulai terkendali, aktivitas pengapalan mulai beroperasi, dan aktivitas ekonomi mulai berjalan kembali, kontainer yang menumpuk tersebut akhirnya dapat dilakukan pengapalan. Namun, ternyata aktivitas ekonomi pulih dengan sangat cepat, perusahaan yang tadinya berhenti beroperasi, disaat bersamaan memulai operasinya dan permintaan kontainer tiba-tiba melonjak signifikan. Akibat adanya penundaan pengapalan dan permintaan kontainer yang naik signifikan, pasokan kontainer tidak dapat memenuhi permintaan. Apa yang terjadi jika pasokan tidak dapat memenuhi permintaan? Ya tentu saja harga kontainer meningkat.
Akibat dari harga kontainer yang meningkat tersebut, SMDR memperoleh pendapatan dan laba bersih yang besar pada tahun 2021. Atas kinerjanya yang gemilang tersebut, pasar mengapresiasi SMDR sehingga harga sahamnya ikut meningkat signifikan mulai dari tengah tahun 2021 hingga pertengahan tahun 2022. Harga saham SMDR mencapai titik tertinggi pada harga Rp4,080.
Namun setelah itu harga sahamnya terus mengalami penurunan hingga saat ini berada pada harga Rp2,590 atau turun sebanyak 36.6% dari puncak tertingginya. Bahkan dalam tiga hari kebelakang ini SMDR mengalami ARB secara terus-menerus. Apa yang terjadi?
Kami memperkirakan turunnya harga saham SMDR secara signifikan ini sebagai bentuk kekecewaan investor terhadap perusahaan karena nominal dividennya hanya sebesar Rp50 per saham atau setara Rp163.7 miliar. Namun sebenarnya, total dividen yang dibagikan kali ini adalah yang terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi jika kita lihat dari dividen payout ratio-nya (DPR) maka ini merupakan dividen yang kecil karena hanya sebesar 12.33%.
Perhatikan gambar grafik dividen dibawah! Jumlah dividen telah disesuaikan setelah SMDR stock split pada tahun 2017 lalu.
Gambar : Dividen SMDR Sejak 2011
Meskipun nominal dividen besar, namun sangat kecil jika melihat dari sisi DPR-nya. Namun bagaimanakah kinerja SMDR tahun ini? Apakah penurunan harga sahamnya ini bukan hanya karena dividen semata? Atau diikuti oleh penurunan kinerjanya?
Gambar : Kinerja SMDR hingga Mei 2022
Berdasarkan materi public expose-nya, hingga Mei 2022 SMDR telah mencatatkan pendapatan sebesar US$440.8 juta, naik 95% dibandingkan dengan tahun lalu. Begitu juga dengan laba bersihnya yang tercatat sebesar US$94.8 juta, atau naik sebesar 319%. Jika dirupiahkan maka laba bersih SMDR sebesar Rp1.36 triliun, sudah lebih dari laba bersih satu tahun 2021 dimana pada tahun 2021 SMDR mencatatkan laba US$93 juta. Again, laba bulan ke lima tahun ini sudah melibihi laba full year tahun lalu.
Sebagai kesimpulan, jika kita melihat kinerja SMDR tahun ini, maka SMDR mengalami kenaikan kinerja yang tercermin dari naiknya laba bersih perusahaan. Turunnya harga saham SMDR kemungkinan besar memang karena kecewanya investor terhadap perusahaan karena nominal dividen yang cukup kecil jika dibandingkan dengan laba perusahaan.
Namun kita melihat potensi SMDR untuk kembali rebound tetap ada, karena dengan valuasi saat ini harganya masih tergolong wajar, belum terlalu “kemahalan”. Ditambah kondisi harga container yang masih tinggi dibandingkan tahun lalu. Namun tetap pasang mata, harga SMDR tak semurah dulu, rsikonya saat ini adalah dimana ketika harga container terus merosot < $5000 maka pendapatan dan laba bersih SMDR juga akan turun, sehingga harga sahamnya tidak lagi di apresiasi oleh pasar. Maka dari itu, silahkan lakukan discount pada tahap valuasi kita agar dapat angka yang lebih rasional.
Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.
2022 © Cuanderful Indonesia

Responses