Performa Mengesankan Spindo – ISSP

PT Steel Pipe Industry of Indonesia, Tbk atau Spindo (ISSP) mengalami kenaikan harga saham yang luar biasa pada tahun ini. Secara year to date, ISSP telah naik 216% saat artikel ini ditulis. Kenaikan harga saham ini sejalan dengan kenaikan kinerja ISSP. Pada kuartal II 2021, ISSP mencatatkan laba terbesar sepanjang sejarah perusahaan berdiri. Kinerja yang bagus tersebut berlanjut hingga ke kuartal III tahun ini dengan kembali memecahkah rekor laba tertinggi sepanjang sejarah perusahaan berdiri. Kinerja yang bagus tersebut direspon baik oleh pasar sehingga harga sahamnya kembali naik signifikan dalam satu minggu.

Bagaimana kinerja ISSP sebenarnya? Apakah kenaikan harga sahamnya sejalan dengan kinerja? Bagaimana prospek ISSP kedepannya? Mari kita bahas!

Sebenarnya, ISSP ini sudah masuk ke dalam pembahasan E-Book 10 Saham Pilihan Q2 2021 lalu saat harganya masih di area 200 – 300an. Tapi ada baiknya kita kembali membahas secara umum agar rekan-rekan yang lain bisa belajar juga framework analisa yang biasa dilakukan oleh tim Cuanderful.

Gambar : Pembahasan ISSP di E-Book 10 Saham Pilihan

Yuk kita mulai! PT Steel Pipe Industry of Indonesia, Tbk atau Spindo (ISSP) adalah produsen pipa baja dengan kapasitas terbesar di Indonesia. Berdiri pada tahun 1971 dan mencatatkan saham pertama di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 22 Februari 2013.

Kegiatan usaha Perseroan adalah merancang dan memproduksi berbagai macam pipa baja berdasarkan kategori, baik umum maupun kostum. Produksi yang dilakukan meliputi berbagai jenis pipa yang dibuat dari karbon hot rolled, cold rolled dan stainless steel.

Selain itu, Perseroan menyediakan jasa pelapisan internal dan eksternal. Pasar penjualan Perseroan fokus pada empat segmen yaitu infrastruktur, utilitas, dan konstruksi; industri minyak dan gas; industri otomotif; dan furnitur. Basis pelanggan Perseroan berasal dari Perseroan domestik dan Perseroan multinasional. Untuk pasar global, Perseroan secara rutin melakukan ekspor ke Amerika Serikat dan Kanada.

Gambar : Laporan Laba Rugi Perusahaan

Pada semester I, ISSP berhasil meraih margin laba kotor dan laba bersih terbaik selama Perusahaan berdiri. Laba kotor sebesar Rp485 Miliar dan laba bersih sebesar Rp254 Miliar. Laba tersebut naik sebesar 9.557% dibanding laba tahun lalu yang hanya sebesar Rp2,63 Miliar. Tren berlanjut ke kuartal III 2021 dimana ISSP kembali mencatatkan laba bersih terbaiknya sepanjang masa. Dengan pendapatan Rp3.82 triliun ISSP mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp446 miliar pada kuartal III tahun ini. Pendapatan naik 40%, sedangkan laba bersih naik signifikan sebesar 810% jika dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama.

Gambar : Produksi ISSP Sejak Tahun 2018

Kenaikan pendapatan pada kuartal III salah satunya disebabkan oleh adanya perbaikan ekonomi pada masa Covid-19 yang secara tidak langsung mempengaruhi tingkat permintaan akan produk ISSP. Purchasing Manager’s Index Manufaktur Indonesia menjadi salah satu indikatornya.

PMI Manufaktur telah berada di level ekspansi yang mengindikasi bisnis-bisnis perlahan telah berjalan kembali.  Jika kita melihat total produksi ISSP sepanjang tahun hingga kuartal III, rata-rata total produksi telah mencapai 70% dari total produksi tahun-tahun sebelumnya yang mengindikasi permintaan mulai kembali normal seperti sebelum pandemi.

Hingga saat ini, produksi segmen strip masih mendominasi dari total produksi ISSP, serupa dengan tahun-tahun sebelumnya. ISSP telah memproduksi strip sebanyak 499.5 ribu ton, HFW 353.7 ribu ton, Plate 239.4 ribu ton, SSAW 135 ribu ton, galvanizing 63 ribu ton, dan TIG sebanyak 6.75 ribu ton. Selain disebabkan mulai meningkatnya permintaan, kenaikan pendapatan juga disebabkan adanya kenaikan harga penjualan. Sepanjang tahun ini, harga Hot Rolled Coil (HRC) telah naik signifikan, begitu juga dengan harga Black Pipe yang terus mengalami peningkatan. 

Gambar : Harga Penjualan Black Pipes dan HRC

Dari gambar diatas kita dapat melihat bahwa adanya peningkatan harga jual black pipe dan HRC. Sepanjang tahun 2021, harga penjualan terus mengalami kenaikan. Kenaikan harga ini berpengaruh kepada margin laba ISSP. Margin laba bersih ISSP selama 5 tahun terakhir selalu berada dibawah 5%, namun pada kuartal III tahun ini margin laba bersih ISSP sebesar 11%.

Begitu juga dengan return on equity (ROE) yang selalu berada dibawah 6% hingga pada tahun ini ROE ISSP telah mengalami kenaikan hingga berada di angka 15% secara trailing twelve months.

Hal yang menarik dari ISSP adalah perusahaan mampu meneruskan kenaikan harga bahan baku kepada konsumen dengan menaikkan harga jual produknya. Walaupun harga jual mengalami kenaikan, namun para konsumen ISSP tetap menggunakan produk ISSP. Pelanggan ISSP berasal dari beberapa sektor seperti sektor konstruksi, infrastruktur, dan utilitas yang meliputi Adhi Karya, Waskita Karya, PTPP, Wijaya Karya, Nindya Karya, LinkNet, Moratelindo, Telkom Indonesia, dan lain-lain. Dari sektor otomotif meliputi Kawasaki, KYB, Yamaha, Showa, Laksana, dan lain-lain. Dari sektor oil & gas, Pertagas  dan PGN adalah salah dua kostumer ISSP. Total kostumer tahunan ISSP mencapai lebih dari 5000 kostumer.

Gambar : Neraca Keuangan Sejak Tahun 2016

Liabilitas ISSP dalam 5 tahun terakhir cenderung stabil direntang Rp2.5 triliun hingga Rp4.0 triliun. Liabilitas jangka pendek berupa utang bank jangka pendek mendominasi dari total liabilitasnya. Rasio utang terhadap ekuitasnya pada kuartal III sebesar 0.6x. Turun jika dibandingkan dengan rata-rata rasio utangnya dalam 5 tahun terakhir. Rasio liabilitas terhadap ekuitasnya sebesar 0.8x secara year to date.

Ekuitas ISSP terus mengalami peningkatan sejak tahun 2016 yang bernilai sebesar Rp2.65 triliun dan pada kuartal III tahun ini telah bernilai sebesar Rp3.78 triliun. CAGR 3 tahunan ekuitas pada tahun 2020 sebesar 5%, pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan tahun 2018 dan 2019. Hingga kuartal III, ekuitas telah bertumbuh 13% terhadap ekuitas pada tahun 2020.

Pertumbuhan ekuitas ini tentu disebabkan oleh naiknya saldo laba dari tahun ketahun. Dari sisi aset, pada tahun 2019 dan 2020 mengalami penurunan yang disebabkan oleh turunnya liabilitas perusahaan. Rasio lancar ISSP pada kuartal III sebesar 1.57x dan rasio lancar selalu berada diatas 1 kali yang mengindikasi bahwa ISSP dapat menutupi semua liabilitas lancarnya dengan aset lancar. Namun jika kita melihat rasio kas terhadap liabilitas lancarnya, rasio tersebut sebesar 0.45x yang artinya uang kas perusahaan tidak dapat menutupi liabilitas lancarnya. Secara neraca keuangan, ISSP bisa dikatakan bagus, ekuitasnya terus mengalami pertumbuhan sedangkan liabilitasnya cenderung stabil.

https://lh6.googleusercontent.com/cgUwfFpqmFcqKEAahC0Xmuu0iw92en__ZFwCJMdWA1VQ3WjVWB-yqIbH4wI1WqtONsltR7QWn75ELy-EDUBenSszK05S6xwkmRlp6K9RGYSUQ9QV2dgYC94vXwGupN1ttI0ukM-I

Gambar : Realisasi dan Proyeksi Permintaan Baja Nasional

Bagaimana prospek ISSP kedepannya? Apa saja katalis positif bagi ISSP? Berdasarkan Gambar diatas, data dari South East Asia Iron dan Steel Institute atau SEAISI diperkirakan hingga 5 tahun kedepan kebutuhan baja nasional masih akan didominasi oleh sektor konstruksi dengan pertumbuhan rata-rata 5,1% per tahun hingga 2025. Seperti kita ketahui bahwa pemerintah pusat berencana memindahkan ibukota Indonesia ke daratan Kalimantan.

Pembangunan masif tentunya akan terjadi jika rencana pemerintah benar-benar direalisasikan. Tentu ini merupakan prospek besar bagi ISSP dikarenakan pendapatan dari pada sektor konstruksi dan infrastruktur masih mendominasi lebih dari 60% dari total pendapatan Perseroan. Selain itu pada sektor lain, adanya insentif pajak penghasilan penjualan atas barang mewah (PPNbM) 100 persen kendaraan, menjadi katalis positif  bagi sektor otomotif.

Permintaan akan otomotif berdasarkan data Gaikindo pada semester I naik sebesar 33,5 persen dibanding tahun lalu . Adanya stimulus Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan disertai alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 untuk infrastruktur nasional sebesar Rp 417,8 Triliun atau meningkat 48,4 persen dari tahun sebelumnya, ini menjadi katalis positif bagi ISSP pada sektor konstruksi dan infrastruktur. 

Gambar : Utilitas Pabrik Sejak Tahun 2014 hingga Saat Ini

Katalis positif juga datang dari ISSP sendiri dimana adanya peningkatan utilitas pabrik. Gambar diatas menunjukkan grafik utilitas pabrik ISSP dari tahun 2014 – sekarang. Garis putus-putus merupakan utilitas pada tahun 2021. Dapat dilihat terjadi penurunan utilitas pabrik pada bulan Juni-Juli yang disebabkan adanya pembatasan kegiatan masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah.

Ketika terjadinya pelonggaran terhadap aktivitas dan ekonomi mulai kembali pulih, utilitas pabrik kembali naik hingga puncaknya pada September utilitas pabrik sebesar 60%. Rata-rata utilitas tahun ini sebesar 53% dan perusahaan berusaha untuk mempertahankan utilitas pabrik diatas 50% seiring dengan adanya perbaikan ekonomi. Disamping itu, Perseroan juga merencanakan untuk menambah kapasitas produksi dan mengurangi biaya produksi. Dengan ini diharapkan tingkat efisiensi pabrik akan lebih tinggi lagi.

Tantangan bagi ISSP saat ini adalah persaingan dengan produk-produk impor. Dalam beberapa tahun kebelakang, Indonesia dipenuhi oleh produk-produk baja impor terutama dari China. Namun saat ini pemerintah telah menerbitkan kebijakan tentang pengendalian impor baja dan turunannya dengan basis permintaan-penawaran. Ini membuka peluang bagi perusahaan untuk mencapai pasar dalam negeri lebih maksimal.

Kebijakan ini juga akan membuat harga baja dalam negeri lebih stabil. Selain itu ISSP saat ini mulai memaksimalkan pemasok bahan baku dalam negeri. Volatilitas harga bahan baku yang tinggi juga menjadi tantangan bagi perusahaan dimana akan mempengaruhi biaya produksi dan juga harga jual. Kebijakan pemerintah untuk mendukung industri dalam negeri direspon Perseroan dengan mulai memperlebar alokasi belanja bahan baku pada pasar lokal dan memungkinkan untuk mendapatkan harga yang bersaing dengan harga pasar global.


Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.

2021 © Cuanderful Indonesia

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *