Kemilau Kinerja PT Timah Tbk

Harga komoditas timah terus mengalami kenaikan sepanjang tahun 2021. Tercatat hingga 19 November ini, kenaikan harga komoditas timah sebesar 105% secara year to date. Kenaikan harga komoditas timah tentu membawa berkah bagi PT Timah Tbk (TINS) yang lini utama bisnisnya adalah penambangan timah.

Gambar : Harga Acuan Komoditas Timah

Laba bersih TINS pada kuartal III 2021 berbalik untung jika dibandingkan tahun lalu, yaitu dari rugi sebesar Rp255 miliar menjadi untung sebesar Rp612 miliar, meskipun dari sisi volume produksi, volume penjualan, dan bahkan pendapatan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan  tahun lalu pada periode yang sama. Apa yang sebenarnya yang menyebabkan TINS hingga kuartal III tahun ini dapat mencatatkan laba meskipun beberapa aspek mengalami penurunan? Yuk kita bahas apa yang terjadi dan bagaimana prospek TINS kedepannya?

PT Timah Tbk (TINS) berdiri pada tanggal 2 Agustus 1976. TINS melakukan penawaran perdana sahamnya pada tanggal 19 Oktober 1995 dengan harga penawaran sebesar Rp 2,900. TINS bergerak dalam pertambangan timah, kegiatan dimulai dari eksplorasi, penambangan, pemrosesan dan pemasaran. TINS merupakan produsen dan eksportir logam timah terbesar ke-2 di dunia pada tahun 2020.

Wilayah operasi penambangan timah sebagian besar berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Wilayah pemasaran logam timah didominasi oleh pasar ekspor, yang pada semester I lalu berkontribusi sebesar 94% dari total penjualan. Negara tujuan ekspor timah meliputi Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Belanda, Italia, Turki, Amerika Serikat, dan lain-lain. Selain pertambangan timah, perusahaan juga bergerak dibidang pertambangan batubara, pertambangan nikel, jasa pengangkutan, real estate, dan galangan kapal. Pemegang saham terbesar TINS adalah PT Indonesia Asahan Aluminium sebesar 65% dan sisanya publik sebesar 35%.

Pada kuartal III tahun ini, TINS baru memproduksi bijih timah sebesar 17.93 ribu ton, total produksi ini turun sebesar 48% jika dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama dimana total produksi sebesar 34.61 ribu ton. Begitu juga dengan produksi logam timah yang mengalami penurunan sebesar 49% dari 37.59 ribu metrik ton menjadi 19.12 ribu metrik ton pada kuartal III tahun ini.

Seiring  dengan penurunan volume produksi, volume penjualan logam timah pun ikut mengalami penurunan sebesar 58%. Tahun lalu TINS menjual 45.55 ribu metrik ton, sedangkan sepanjang tahun ini TINS baru menjual sebesar 19.06 ribu metrik ton. Begitu juga dengan pendapatan TINS yang mengalami penurunan sebesar 18.7% dengan mencatatkan pendapatan sebesar sebesar Rp9.7 triliun. Walaupun pendapatan turun, laba bersih berbalik menjadi untung, hingga kuartal III ini TINS mencatatkan laba bersih sebesar Rp612 miliar dari tahun lalu yang mengalami kerugian sebesar Rp255 miliar. Walaupun pendapatan turun, apa yang menyebabkan laba bersih berbalik untung?

Gambar : Harga Jual Rata-Rata

Mulai pulihnya kondisi ekonomi ditandai dengan mulai membaiknya konsumsi terhadap produk yang berhubungan dengan timah seperti produk elektronik, yang menyebabkan melesatnya harga komoditas timah. Namun produksi timah sebenarnya masih landai seiring dengan permintaan timah. Harga komoditas timah mengalami kenaikan sepanjang tahun 2021.

Pada bulan November 2021, harga komoditas timah berada pada puncak tertinggi yaitu sebesar USD38,487 per metrik ton. Kenaikan harga komoditas ini juga ikut mengerek naik harga jual rata-rata TINS. Sepanjang tahun 2021, harga jual rata-rata sebesar USD30.55 ribu per metrik ton. Jika kita lihat tahun sebelumnya, harga jual rata-rata sebesar USD17.22 ribu per metrik ton. 

Selain kenaikan harga jual rata-rata, efisiensi pada berbagai lini menyebabkan hasil positif bagi perusahaan sepanjang tahun, salah satunya efisiensi pada beban pokok pendapatan. Pada kuartal III ini beban pokok pendapatan sebesar Rp7.70 triliun atau turun 30% dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama dengan mencatatkan beban sebesar Rp11.22 triliun. Efisiensi terbesar terjadi pada bahan baku bijih timah yang mengalami penurunan sebesar 39%. Begitu juga dengan beban keuangan yang mengalami penurunan sebesar 67%. Tahun lalu pada kuartal III beban keuangan sebesar Rp533 miliar sedangkan tahun ini beban pokok hanya sebesar Rp276 miliar.

Gambar : Segmen Pendapatan

Logam timah menjadi segmen yang berkontribusi paling besar bagi sumber pendapatan TINS dengan kontribusi sebesar 85% terhadap total pendapatan pada kuartal III tahun ini. Selain memiliki logam timah. TINS juga memiliki segmen lain sebagai penyumbang pendapatan seperti penambangan batu bara dan nikel yang masing-masing mencatatkan pemasukan sebesar Rp329 miliar dan Rp123 miliar pada kuartal ini. Tin chemical dan tin soldel menyumbang pendapatan sebesar Rp746 miliar dan Rp140 miliar secara berurutan. Sedangkan segmen lainnya menyumbang sebesar Rp160 miliar yang meliputi segmen real estate, jasa pengangkutan dan asuransi, serta jasa galangan kapal.

Bagaimana prospek kedepan bagi TINS? Jika kita lihat dari harga komoditas timah, pada bulan Juli hingga saat ini harga komoditas berada pada harga diatas USD 30 ribu per metrik ton. Jika harga tetap stabil diatas USD 30 ribu per metrik ton, bukan tidak mungkin pada kuartal-kuartal berikutnya TINS akan kembali mencatatkan kinerja positif. Selain itu TINS juga perlu menjaga efisiensi perusahaannya terutama pada beban-beban yang selama ini menjadi pemberat bagi pendapatan TINS.

Saat ini TINS tengah membangun smelter pemurnian timah berteknologi Ausmelt dan ditargetkan rampung akhir tahun ini. Smelter ini berkapasitas 40 ribu ton, sehingga dapat mendongkrak kapasitas produksi TINS hingga 70 ribu sampai 80 ribu ton per tahun. Dengan adanya smelter baru yang akan mulai beroperasi pada tahun 2022, ini akan mendongkrak produksi TINS. Bukan tidak mungkin TINS akan kembali menjadi produsen dan eksportir logam timah terbesar di dunia seperti tahun 2019. Saat ini TINS merupakan produsen dan eksportir terbesar kedua di dunia. Pada tahun 2020, 98% dari total penjualan diekspor keluar negeri dan hanya 2% penjualan domestik. Asia merupakan pasar terbesar bagi TINS yang berkontribusi sebesar 68%.

Apakah yang menjadi penghambat kinerja TINS kedepannya? Salah satu resiko yang perlu diperhatikan adalah dampak adanya pandemi Covid-19. Pada tahun 2020 ketika pandemi mulai merebak, permintaan akan timah mengalami penurunan akibat kebijakan lockdown di beberapa negara, sehingga ikut mempengaruhi harga komoditas timah yang saat itu berada pada titik terendahnya sebesar USD 13.4 ribu per metrik ton.

Namun jika kita lihat kondisi saat ini, pandemi mulai mereda, baik Indonesia maupun di dunia. Permintaan logam timah dan harga komoditas tentu menjadi penopang utama arah pendapatan dan laba bersih, apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Seperti perusahaan lainnya yang berpatokan pada harga komoditas, pendapatan dan laba bersih akan terus berfluktuatif seiring dengan perubahan harga komoditas. Kuncinya adalah bagaimana perusahaan dapat melakukan efisiensi pada perusahaannya.


Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.

2021 © Cuanderful Indonesia

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *