Apakah KRAS Telah Bangkit Dari Keterpurukannya?
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) kembali mencatatkan kinerja positif pada tahun ini dengan mencatatkan laba bersih sebesar USD60 juta atau sekitar Rp855 miliar secara year to date. Sepanjang tahun ini KRAS terus-menerus mencatatkan kinerja yang positif.
Mungkin kita semua tahu bahwa KRAS adalah salah satu BUMN yang dalam beberapa tahun terakhir terus-menerus mengalami kerugian yang dimulai dari tahun 2012 dan baru pada tahun 2020 KRAS kembali mencatatkan laba. Apa yang sebenarnya terjadi pada KRAS sehingga mengalami kerugian bertahun-tahun? Apa penyebab KRAS kembali mencatatkan hasil yang positif? Apakah ini momentum kebangkitan KRAS? Mari kita bahas!
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) adalah salah satu produsen baja di Indonesia. Perusahaan didirikan pada tahun 1970 dan memulai operasi pada tahun 1973. KRAS memiliki 3 bidang usaha atau produk utama yaitu, Hot Rolled Coil (HRC), Cold Rolled Coil (CRC), dan Wire Rod.
HRC ini digunakan untuk konstruksi umum, pipa, rangka otomotif, tabung gas, konstruksi kapal, tubing pipa sumur minyak, dan lain-lain. CRC banyak digunakan untuk bidang otomotif, porcelain enamelware, tin mill black plate, dan lain-lain. Wire rod banyak digunakan untuk pembuatan kawat, paku, mur, baut, spring bed, dan lain-lain. Selain 3 bidang bisnis utama, KRAS juga memiliki bisnis pendukung seperti industrial estate dan perhotelan, rekayasa konstruksi, pengelolaan pelabuhan, dan jasa lainnya.
Gambar : Pendapatan dan Laba Bersih KRAS dalam 10 Tahun Terakhir
Mari kita masuk kebagian inti pembahasan. Pendapatan KRAS dari tahun-ketahun terlihat tidak stabil. Pendapatan terbesar KRAS dalam 10 tahun terakhir adalah pada tahun 2013 dimana KRAS mampu mencatatkan pendapatan sebesar Rp25.4 triliun. Walaupun KRAS mencapai pendapatan terbesarnya, KRAS justru mengalami kerugian pada tahun tersebut. Dalam rentang waktu 2011 hingga 2020, KRAS mengalami kerugian dalam 8 tahun berturut-turut.
Jika kita menelaah laporan keuangan KRAS, maka kita dapatkan bahwa penyebab ruginya KRAS disebabkan oleh beban-beban yang cukup besar. Sebagai contoh kita lihat pada tahun 2019 dimana KRAS mengalami kerugian terbesar. Dengan pendapatan sebesar Rp19.7 triliun, beban pokok pendapatan sebesar Rp19.5 triliun, sehingga laba kotor KRAS hanya sebesar Rp235 miliar. Beban pokok pendapatan meliputi pembelian bahan baku, biaya pabrikasi, upah langsung, dan beban non-manufaktur lainnya.
Beban terbesar terdapat pada beban pemakaian bahan baku yang berkontribusi sebesar 53% dari beban pokok pendapatan. Selain itu juga terdapat beban usaha, beban keuangan dan beban lainnya. Beban umum dan administrasi mencapai Rp2.5 triliun pada tahun 2019 dan beban operasional lainnya yang mencapai Rp3.5 triliun. Komposisi beban-beban tersebut yang menguras pendapatan KRAS sehingga mengalami kerugian.
Gambar : Fundamental KRAS dalam 5 Tahun Terakhir
Sejak tahun 2016 sampai 2018, KRAS mengalami peningkatan liabilitas dan ekuitas sehingga berpengaruh pada peningkatan asetnya. Namun pada tahun 2019 terjadi penurunan signifikan terhadap ekuitasnya, turun dari Rp26.1 triliun menjadi Rp4.9 triliun pada tahun 2019. Penurunan signifikan disebabkan oleh peningkatan akumulasi kerugian sebagai dampak dari pengakuan rugi atas penurunan nilai aset sesuai ketentuan PSAK 48 dan peningkatan rugi operasi. Sebelum tahun 2020, komposisi utang jangka pendek lebih besar daripada utang jangka panjang. Namun pada tahun 2020, komposisi utang KRAS mengalami perubahan disebabkan oleh adanya restrukturisasi utang jangka pendeknya. Pada tahun 2020 utang jangka pendek sebesar Rp3.6 triliun, sedangkan utang jangka panjang sebesar Rp25.4 triliun. Kebijakan restrukturisasi utang ini merupakan tindakan dari penyehatan keuangan perusahaan.
Gambar : Neraca Keuangan dan Laba Rugi
Pada tahun 2020 KRAS kembali mencatatkan laba setelah 8 tahun mengalami kerugian. Pendapatan tahun 2020 sebesar Rp18.8 triliun dengan laba bersih sebesar Rp329 miliar. Pada tahun 2021, KRAS mampu mempertahankan kinerja positifnya sepanjang tahun. Pendapatan hingga kuartal III sebesar Rp23.1 triliun dengan laba bersih sebesar Rp855 miliar. Pencapaian tahun 2021 telah melampaui pencapaian 1 tahun penuh 2020.
Apa yang terjadi pada tahun 2020 sehingga KRAS berbalik untung setelah 8 tahun merugi?
Pada tahun 2020 KRAS melakukan beberapa transformasi yang salah satunya adalah program efisiensi biaya. KRAS mampu menekan biaya operasional sebesar 38% dibandingkan tahun 2019. Biaya operasional mencakup biaya energi, biaya utiliti, biaya consumable, biaya spare part, dan lain-lain. KRAS juga melakukan efisiensi terhadap tenaga kerja organik dimana KRAS mampu menekan hingga 73% dibandingkan tahun 2019. Perusahaan juga melakukan program hilirisasi yang dapat menciptakan nilai tambah pada produk dan dampak ekonomi secara nasional melalui kerjasama dengan produsen lokal hilir dan industri pengguna. Pada tahun 2021, laba bersih ditopang oleh kenaikan pendapatan yang naik sebesar 71.5% secara year on year yang kemudian berdampak pada naiknya laba bersih pada kuartal III 2021.
Gambar : Segmen Pendapatan tahun 2020 dan 2021
KRAS memiliki empat segmen penghasil pemasukan bagi perusahaan yaitu, segmen produk baja, rekayasa dan konstruksi, sarana infrastruktur, dan jasa lainnya. Produk baja tentu saja menjadi segmen penopang utama dari KRAS yang pada kuartal III 2021 berkontribusi sebesar 90% terhadap pendapatan. KRAS menjual produk bajanya ke pasar domestik dan ekspor.
Penjualan secara domestik mendominasi dari segmen tersebut. Dari domestik, konsumen KRAS meliputi PT PP, PT Adhi Karya, PT Pertamina, PT Wijaya Karya, PT Bukit Asam, PT PLN, PT PGN, dan masih banyak lagi dari BUMN maupun perusahaan swasta. Jika kita melihat lebih detail lagi segmen produk baja yang dijual oleh KRAS maka kita akan menemukan dua segmen yang mendominasi yaitu produk HRC dan CRC. Mari kita lihat bagaimana penjualan produk ini dalam 5 tahun terakhir!
Gambar : Volume Penjualan HRC dan CRC
Penjualan HRC mendominasi segmen produk baja. Volume penjualan pada tahun 2020 sebanyak 1.19 juta ton sedangkan CRC hanya sebesar 0.41 juta ton. Volume penjualan akan HRC cenderung stagnan dengan pertumbuhan berada dibawah 5% dalam 3 tahun terakhir. Begitu juga dengan volume penjualan CRC yang justru mengalami penurunan dari tahun-ketahun.
Lalu bagaimana prospek KRAS kedepan seiring dengan adanya perbaikan kinerja perusahaan?
Kita lihat perubahan dari dalam KRAS sendiri. Sepanjang tahun 2020 KRAS telah melakukan perombakan dari sisi top manajemennya. Beberapa komisaris dan direksi diberhentikan dan diganti dengan komisaris dan direksi baru. Perombakan ini merupakan salah satu langkah dari Menteri BUMN, Erick Thohir untuk membersihkan KRAS dari oknum-oknum yang diduga merugikan perusahaan. Perubahan top manajemen tentu diharapkan dapat membawa perusahaan kearah perbaikan kinerja. Secara sederhana, sebagus apapun perusahaan jika dipimpin oleh orang yang buruk maka lama kelamaan perusahaan akan menjadi buruk. Sebaliknya, seburuk apapun perusahaan jika dipimpin oleh orang yang berkualitas maka lambat laun perusahaan akan menjadi baik.
Selain dari dalam KRAS sendiri, perusahaan mendapat sentimen positif dari pemerintah dengan adanya kebijakan pemerintah tentang pengendalian impor baja. Selama ini impor baja dari luar negeri masih tinggi. Hal ini dapat dilihat dari utilitas kapasitas industri baja nasional yang masih rendah yaitu sekitar 43% pada tahun 2019 dan 57% pada tahun 2020. Kebijakan pengendalian tersebut terbukti dapat menurunkan impor besi dan baja pada tahun 2020 sebesar 36% dibandingkan dengan tahun 2019. Penurunan impor baja ini berdampak signifikan terhadap peningkatan kinerja serta utilitas perusahaan, dimana pangsa pasar HRC dan CRC mengalami peningkatan masing-masing dari 28.6% dan 14.4% di tahun 2019 menjadi 38.3% dan 20% pada tahun 2020.
Gambar : Realisasi dan Proyeksi Permintaan Baja Nasional
Gambar diatas adalah realisasi dan proyeksi permintaan baja nasional berdasarkan data dari South Asia Iron and Steel Institute atau SEASI. Sejak tahun 2014 permintaan besi dan baja terus mengalami peningkatan dan diproyeksikan tren tersebut akan terus berlanjut hingga tahun 2025. Penopang utama permintaan besi dan baja adalah sektor konstruksi dan dilanjutkan dengan sektor otomotif. Sebelumnya sudah disebutkan bahwa konsumen dari KRAS salah satunya berasal dari sektor konstruksi BUMN.
Kembali lagi ke pertanyaan awal, apakah ini merupakan momentum kebangkitan KRAS dari keterpurukannya? Memang terkesan terlalu dini untuk mengambil kesimpulan bahwa KRAS telah bangkit dari keterpurukannya. Kita perlu melihat kinerja KRAS beberapa tahun kedepan sebelum mengambil kesimpulan. Namun, tim Cuanderful saat ini dapat mengambil kesimpulan bahwa sudah mulai ada titik terang di KRAS ini, jika KRAS mampu terus mempertahankan kinerja baiknya saat ini dengan adanya katalis positif dari sisi internal dan eksternal, maka besar kemungkinan tren positif ini akan berlanjut.
Bagaimana menurut Cuanvestor, apakah kinerja positif tahun ini merupakan awal kebangkitan KRAS?
Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.
2021 © Cuanderful Indonesia

Responses