IPO-nya Sang Raja Tower Telekomunikasi

Anak usaha PT Telkom Indonesia, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) baru saja melakukan paparan publik terkait rencana Mitratel melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari selasa, 26 Oktober 2021. Mitratel akan melepas sebanyak-banyaknya 29.85% saham biasa ke publik atau sebanyak 25.54 miliar lembar saham. Saham yang ditawarkan ke publik dengan harga berkisar antara Rp775 sampai dengan Rp975.

Dari hasil penawaran umum perdana saham ini, Mitratel akan mengantongi dana segar sebanyak-banyaknya Rp24.9 triliun. IPO-nya Mitratel akan menjadi IPO pertama BUMN setelah beberapa tahun terakhir tidak ada BUMN yang melantai di BEI. Bagaimana prospek Mitratel? Layakkah saham Mitratel ditebus dengan harga yang ditawarkan? Mari kita bahas!

PT Dayamitra Telekomunikasi atau disingkat Mitratel merupakan salah satu anak perusahaan PT Telkom Indonesia (TLKM) yang bergerak dibidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi. Mitratel didirikan pada 18 Oktober 1995 dan mulai menjalankan bisnis penyediaan infrastruktur telekomunikasi pada tahun 2008 dengan total menara hingga kini sebanyak 28 ribu menara telekomunikasi atau sebesar 31% dari total menara di Indonesia.

Mitratel merupakan pemilik menara telekomunikasi terbanyak di Indonesia. Portofolio utama Mitratel saat ini terdiri dari 2 kelompok yaitu penyewaan menara dan bisnis lain terkait menara seperti project solution, managed service, dan digital service. Sebelum IPO, 99.99% saham Mitratel dimiliki oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Mitratel memiliki anak perusahaan yaitu, PT Persada Sokka Tama yang juga bergerak dibidang infrastruktur telekomunikasi.

Gambar : Neraca Keuangan Mitratel 

Neraca keuangan Mitratel menunjukkan pertumbuhan yang baik. Pada tahun 2016, liabilitas Mitratel sebesar Rp8.5 triliun dan pada Juni 2021 liabilitas bertumbuh menjadi Rp18.6 triliun. Pertumbuhan liabilitas pada tahun 2020 dimana liabilitas bertumbuh 39% dibandingkan tahun 2019. Kontributor kenaikan liabilitas adalah kenaikan saldo pinjaman Mitratel. Pertumbuhan rata-rata 5 tahun ( CAGR 5 tahun) liabilitas adalah 17%.

Kenaikan liabilitas diikuti dengan naiknya ekuitas perusahaan hingga pada tahun 2016 ekuitas Mitratel sebesar Rp2.2 triliun dan telah menjadi Rp13.6 triliun pada Juni 2021. Kenaikan rata-rata 5 tahun ekuitas (CAGR) Mitratel adalah 44%. Naiknya liabilitas dan ekuitas tentunya memberi dampak yang selaras dengan aset. Aset Mitratel saat ini telah berjumlah sebesar Rp32 triliun.

Kondisi Laba Rugi Mitratel

Gambar : Laba Rugi Mitratel

Secara historikal, Mitratel mencatatkan kenaikan pendapatan sejak tahun 2016. Pada tahun 2016, Mitratel mencatatkan pendapatan sebesar Rp3.4 triliun dan meningkat pada tahun berikutnya menjadi Rp4.09 triliun. Pendapatan Mitratel terus naik dan pada tahun 2020 Mitratel mencatatkan pendapatan sebesar Rp6.19 triliun. Hingga Juni 2021, Mitratel telah mencatatkan pendapatan sebesar Rp3.23 triliun.

Penyewaan menara telekomunikasi berkontribusi sebesar 79% dari total pendapatan Mitratel. Jika kita menghitung CAGR dari tahun 2016 hingga Juni 2021 maka didapatkan CAGR sebesar 14%. Kenaikan pendapatan ikut mengerek naik laba bersih Mitratel. Dapat kita lihat bahwa laba bersih Mitratel terus meningkat sejak tahun 2016. Laba bersih Mitratel telah menjadi dua kali lipat pada tahun 2020 jika dibandingkan dengan tahun 2016.

Hingga Juni 2021, laba bersih Mitratel telah melampaui laba bersih 1 tahun penuh tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya penurunan beban pokok pendapatan pada segmen penyusutan umur manfaat aset tetap menara telekomunikasi dan beban amortisasi sesuai dengan penerapan PSAK 73.

Gambar : Arus Kas Mitratel

Laporan arus kas merupakan laporan yang berisi arus keluar dan masuknya uang. Mari kita lihat bagaimana arus kas dari Mitratel!

Arus kas dari aktivitas operasi konsisten bernilai positif yang mengindikasi baiknya arus kas operasi Mitratel. Sepanjang tahun 2021, arus kas operasi yang berasal dari penerimaan konsumen sebesar Rp4.5 triliun, naik 31% jika dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama.

Dari sisi kas yang digunakan untuk investasi, dapat kita simpulkan bahwa Mitratel melakukan perolehan aset dalam beberapa tahun terakhir dilihat dari negatifnya nilai arus kas. Salah satu aktivitas perolehan aset Mitratel adalah akuisisi menara telekomunikasi milik PT Telekomunikasi Selular yang dilakukan pada Februari 2021.

Melihat dari arus kas pendanaan, pada tahun 2021 arus kas Mitratel bernilai positif. Hal ini disebabkan oleh adanya penambahan modal sebesar Rp7 triliun yang dilakukan oleh PT Telkom Indonesia Tbk yang digunakan sebagai pembiayaan akuisisi menara telekomunikasi. Berdasarkan laporan keuangan kuartal II 2021, kas setara kas Mitratel pada akhir periode adalah sebesar Rp1.43 triliun.

Gambar : Rasio Profitabilitas, Likuiditas, dan Solvabilitas

Sejak tahun 2018, Mitratel mengalami peningkatan margin laba kotor dan laba bersih. Pada tahun 2018, margin laba kotor dan laba bersih sebesar 30% dan 9.9% secara berurutan.Kemudian pada tahun 2021 margin laba kotor sebesar 49.1 %, sedangkan margin laba bersih sebesar 21.7%.

Return on Assets (ROA) Mitratel cenderung stagnan sejak tahun 2018 dan berada di rentang 2-4%. Tidak jauh berbeda, Return on Equity (ROE) yang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2018 yang saat itu sebesar 15.6%, sedangkan tahun-tahun berikutnya ROE Mitratel berada dibawah 10%.

Dilihat dari rasio solvabilitas, Mitratel mengalami penurunan Debt to Equity Ratio (DER) sejak tahun 2018. Pada tahun 2021, DER Mitratel hanya sebesar 1x. Ini mengindikasi adanya perbaikan perusahaan dari sisi utang. Dari sisi likuiditas, Mitratel memiliki rasio lancar (CR) yang kecil dikarenakan berada dibawah 1x. CR yang berada dibawah 1x mengindikasi bahwa aset lancar perusahaan belum bisa menutup seluruh liabilitas lancarnya. Namun, ini hal wajar di kalangan emiten menara, rata-rata current ratio di industri sejenis MTEL adalah berkisar 0.48x.

Lalu bagaimana prospek Mitratel kedepan?

Pandemi Covid-19 telah merubah perilaku masyarakat dimana banyak kegiatan yang telah berubah dari kegiatan tatap muka menjadi online, seperti kerja, sekolah, kuliah, belanja, maupun bersosialisasi telah dilakukan secara online. Semua kegiatan tersebut tentu membutuhkan sebuah koneksi internet.

Mitratel mungkin tidak secara langsung mendapat efek dari banyaknya kegiatan yang dilakukan secara online, namun Mitratel sebagai penyedia menara telekomunikasi terkena dampak dari meningkatnya permintaan penyewaan menara dari provider penyedia internet seperti telkomsel, indosat, tri, XL, fren, dan lain-lain. Bahkan sebelum terjadinya pandemi, peningkatan akan permintaan menara telekomunikasi telah meningkat. Mari kita lihat permintaan sewa menara Mitratel pada gambar grafik dibawah.

Gambar : Penyewa Menara Mitratel

Berdasarkan grafik diatas, penyewa menara terus meningkat dari tahun ketahun. Pada tahun 2016, jumlah penyewa sebanyak 9,851. Hanya dalam 5 tahun, penyewa menara telah meningkat sebanyak 4 kali dari tahun 2016. Hingga bulan Juni 2021, penyewa menara telekomunikasi berjumlah 36,507 penyewa.

Permintaan penyewaan menara diperkirakan masih akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan akan internet di Indonesia. Selain itu, hadirnya konektivitas 5G akan memberi dampak positif kepada para penyedia menara telekomunikasi dimana kebutuhan tower akan semakin masif.

Gambar : Perbandingan Tiga Penyedia Tower Terbesar

Di Indonesia terdapat tiga besar penyedia menara telekomunikasi, yaitu PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan Mitratel. TBIG dan TOWR telah lebih dulu melantai di Bursa Efek Indonesia. Ketiga perusahaan serentak mengalami pertumbuhan jumlah menara maupun jumlah penyewa menara sehingga tenancy ratio mengalami peningkatan sejak tahun 2018.

Pada tahun 2020, TOWR memimpin dengan perolehan jumlah penyewa dan pemilik menara telekomunikasi terbanyak di Indonesia, namun tenancy ratio terbesar dimiliki oleh TBIG. Pada tahun 2021, Mitratel menyusul sebagai pemilik menara telekomunikasi terbanyak di Indonesia dengan jumlah menara sebanyak 28 ribu menara.

Kembali lagi ke pertanyaan, layakkah menebus saham Mitratel?

Mari kita hitung PER Mitratel! Berdasarkan proforma, jumlah saham sebanyak 85.67 miliar lembar saham. Laba bersih Mitratel bulan Juni 2021 sebesar Rp700 miliar. Jika kita menghitung laba bersih satu tahun penuh secara Trailing Twelve Months (TTM) maka didapat laba bersih sebesar Rp1.148 triliun. Sehingga didapat Earning per Shares (EPS) sebesar Rp13.40 rupiah. Jika harga penawaran sebesar Rp775, maka didapat PER sekitar 58x.

Lalu kita coba menghitung EV/EBITDA (enterprise value dibagi dengan earning before interest, tax, depreciation, and amortization).  Setelah menghitung EV ketika harga saham sebesar Rp775, kita dapatkan EV sebesar Rp77.17 triliun. Sedangkan EBITDA hasil perhitungan sebesar Rp2.1 triliun. Maka didapat EV/EBITDA sebesar 36.74x.

Valuasi diatas kita gunakan dengan basis TTM, jika memang angka kuartal 3 dan 4 ternyata lebih baik dari tahun lalu tentunya angka PER dan juga EV/EBITDA itu secara langsung akan turun.

Jika kita mengambil metode PBV (price to book value) maka dengan asumsi harga kita gunakan Rp775 maka ekuitas Mitratel akan bertambah sebesar Rp 19.79 triliun menjadi Rp 33.48 triliun. Lalu kita bagikan dengan jumlah saham beredar maka PBV MTEL ada di angka 2.0x.

Angka yang cukup premium, namun perlu diingat memang sektor menara ini memiliki track record valuasi yang tinggi karena dihargai seperti itu oleh pasar mengingat prospek dan kinerja yang dimilikinya. Kali ini yang akan diadakan IPO cukup menarik..

Bagaimana Cuanvestor? Tertarik membeli sahamnya?


Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.

2021 © Cuanderful Indonesia

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *