Unilever Indonesia (UNVR) – Tantangan Perjalanan Manis Sang Legenda
Unilever Indonesia Tbk (UNVR) adalah salah satu perusahaan terbuka yang memiliki performa yang luar biasa selama melantai di bursa Indonesia. Bagaimana tidak, pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan berada di dua digit pertahunnya. Begitu juga dengan imbal hasil terhadap ekuitasnya (ROE) yang selalu berada diatas 100%. Namun, 5 tahun kebelakang ini, pertumbuhan UNVR terus menurun, tidak ada lagi pertumbuhan dua digit. Apakah kisah manis pertumbuhan UNVR ini akan menjadi kisah legenda belaka? Mari kita bahas!
UNVR awal mulanya didirikan sebagai Lever’s Zeepfabrieken NV pada 5 Desember 1933 yang kemudian berganti nama menjadi PT Unilever Indonesia pada tahun 1980 dan setelahnya Unilever Indonesia menjadi perusahaan publik pada tahun 1981 dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya pada tanggal 11 Januari 1982.

UNVR merupakan perusahaan penyedia barang consumer goods yang dalam operasionalnya terbagi menjadi dua kategori produk yaitu Home and Beauty Personal Care (Kebutuhan Rumah Tangga dan Perawatan Tubuh) dan Food and Refreshment (Makanan dan Minuman). Produk-produk familiar dari UNVR itu seperti Sunlight, Lifebuoy, Walls, Pepsodent dan Dove hingga Royco, Bango, Rexona, Citra, Rinso, Molto dan banyak lagi. Portofolio UNVR terdiri dari 42 produk domestik utama dan lebih dari 1.100 Stock Keeping Unit (SKU) yang dipasarkan melalui lebih dari 800 jaringan distributor independen yang melayani ratusan ribu toko di seluruh Indonesia. Kebanyakan produk UNVR menjadi market leader di bidangnya masing-masing.
Harga saham UNVR terus mengalami penurunan. Bahkan ketika IHSG mengalami kenaikan harga setelah jatuh dalam saat pandemi mulai merebak, UNVR tetap melanjutkan penurunan harga sahamnya. Jauh sebelum pandemi terjadi, sebenarnya saham UNVR sudah turun secara perlahan sejak menyentuh all time high-nya pada tahun 2018. Saat itu harga UNVR berada di Rp 11,620 per lembar sahamnya dengan PE rasio 60x. Luar biasa bukan? Dari sini sebenarnya kita sudah dapat salah satu penyebab penurunan UNVR ini. Saat artikel ini dibuat, UNVR diperdagangkan di harga Rp 3,950 dengan PE ratio 22.87x. Tentu ini adalah penurunan yang sangat signifikan.
Apa yang terjadi? Apakah penurunan ini disertai penurunan kinerja UNVR?
Figures : Pendapatan UNVR sejak 2008 hingga 2020
Sekilas tidak ada yang salah dengan pendapatannya. Pendapatan konsisten naik sejak 2008. Bahkan pada tahun 2020 saat pandemi terjadi, Pendapatan UNVR tetap naik dibanding tahun 2019. Yang perlu menjadi perhatian adalah pertumbuhan pendapatan dari tahun-ketahun. 10 tahun kebelakang pertumbuhan pendapatan berada diatas 10% setiap tahunnya, namun sejak 2015 pertumbuhannya mulai melambat dan tidak pernah diatas 10% pertahun. Perlambatan pertumbuhan pendapatan inilah yang menjadi concern para investor UNVR.
Figures : Laba Bersih UNVR sejak 2008
Jika kita lihat dari sisi laba bersihnya, laba bersih UNVR mengalami kenaikan dari tahun 2008 hingga tahun 2018. Namun sejak tahun 2019, laba bersih mengalami penurunan dan terus turun pada tahun 2020. Sebenarnya pencapaian laba tahun 2018 disebabkan oleh pendistribusian merek dagang. Jika kita tiadakan hal itu, sejatinya pertumbuhan laba UNVR masih berlangsung. Hingga akhirnya benar-benar terjadi penurunan pada tahun 2020 dikala pandemi Covid-19 menyerang Indonesia.
Penyebab lain turunnya harga UNVR disebabkan oleh menurunnya pertumbuhan laba per tahunnya dalam 5 tahun kebelakang. Harga adalah cerminan dari ekspektasi investor. 10 tahun lalu, investor berekspektasi pertumbuhan labanya bisa berada di angka dua digit sehingga mereka berani membayar mahal atas harga sahamnya. Namun 5 tahun kebelakang UNVR tidak lagi menunjukkan pertumbuhan dua digitnya sehingga nilai intrinsik yang dianggap investor itupun turun dan tidak heran jika harga saham turun menuju harga wajarnya disebabkan tidak tercapainya ekspektasi Investor.
Jika pertumbuhan pendapatan dan laba bersih UNVR terus turun, masih menarikkah UNVR? Dengan fundamental yang kuat dan keuangan yang sehat, UNVR masih akan terus bertahan. Poin yang harus diingat jika ingin berinvestasi di emiten ini adalah efektifitas inovasi yang dilakukan perusahaan. Apakah inovasi tersebut dapat membantu pertumbuhan perusahaan kedepannya? Hal ini dikarenakan sudah banyak kritik terhadap pertumbuhan perusahaan yang cenderung stagnan dalam 5 tahun terakhir. Tidak seperti pertumbuhan pada 10 tahun kebelakang.
Pendapat singkat dari kami bahwa sebenarnya emiten ini cukup menarik bukan karena dia perusahaan yang super duper bagus atau juga karena valuasinya benar-benar murah, namun karena dia simply perusahaan bagus dengan harga yang cenderung wajar alias wonderful company at fair price. Silahkan dipelajari dan dicari berapa nilai intrinsik UNVR sesuai dengan ekspektasi Anda. Untuk yang belum mengerti cara memvaluasikan perusahaan bisa belajari disini
Lalu, bagaimana resiko UNVR ditengah pandemi yang masih berlanjut? Apa saja yang menjadi tantangan bagi UNVR?
Salah satu tantangan UNVR adalah kenaikan harga bahan baku untuk memproduksi produknya seperti minyak kelapa sawit, minyak mentah, dan kedelai. Kenaikan bahan baku dapat menyebabkan semakin tipisnya margin laba UNVR. Perusahaan telah menyiasati pada tahun lalu dengan menaikkan harga produknya sekitar 2%.
Namun tentunya menaikkan harga produk bukan keputusan yang cukup sustain. Mengapa? Sejak terjadinya pandemi, berdasarkan survey yang dilakukan oleh Mckinsey, dengan membandingkan konsumsi masyarakat pada September 2020 dan 2019, masyarakat Indonesia pada 2020 lebih memilih untuk membelanjakan produk yang lebih murah dibandingkan dengan tahun 2019 sebelum pandemi terjadi dan berencana untuk melanjutkannya setelah pandemi berlalu. Ini tentu menjadi sebuah peringatan bagi perusahaan untuk lebih berhati-hati jika ingin menaikkan harga produk. Kita juga tahu bahwa harga produk UNVR lebih mahal ketimbang produk dari pesaing. Jika tidak berhati-hati maka bukan tidak mungkin pangsa pasar UNVR akan direbut oleh pesaing yang memiliki produk dengan harga lebih murah.
Bagaimana nih pendapat kamu? UNVR buy or bye?
Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.

Responses