Jualan Boba Tapi Bisa IPO?

Dalam 4-5 tahun terakhir tentu sobat Cuan mulai mengenal dengan yang namanya boba. Bulat-bulat kecil dan kenyal yang biasanya kita temukan di dalam campuran minuman seperti teh susu. Sobat Cuan mungkin adalah salah satu penggemar minuman dengan campuran boba. Minuman dengan campuran boba ini mulai populer sejak 4-5 tahun yang lalu. Tahukah sobat bahwa salah satu perusahaan pembuat boba akan melantai di bursa efek Indonesia? Ya, sobat tidak salah dengar. Pembuat boba akan melakukan IPO dalam waktu dekat. Namun apakah bidang usaha perusahaan tersebut hanya sebatas pembuat boba saja? Atau ada bidang usaha lain? Apakah layak untuk menebus saham perusahaan tersebut? Mari Kita bahas!

PT Formosa Ingredient Factory Tbk, yang kemudian akan memiliki simbol bursa “BOBA” adalah salah satu produsen boba. Perusahaan didirikan pada tahun 2016 di kota Tangerang. Perusahaan menjalankan usaha dibidang produksi tapioca pearl, topping jelly, premium jam, brown sugar syrup, waffle premix powder, dan menjual mesin pembuat waffle. Jadi perusahaan tidak hanya menjual boba, melainkan beberapa topping minuman jenis lain, serta mesin pembuat waffle. Perusahaan memasarkan produk dengan nama “Boba King”. Perusahaan memasarkan produknya kepada pelanggan atau konsumen perseroan seperti XiBoBa, Kokumi, Gulu Gulu, Kopi Kenangan, Kopi Soe, dan lain-lain.

Perusahaan berencana melakukan penawaran umum perdana saham di bursa efek Indonesia dengan jumlah saham yang ditawarkan sebanyak-banyaknya 140 juta lembar saham atau 12.11% dari total saham. Harga penawaran berada pada rentang harga Rp 250 sampai dengan Rp 280. Dari rentang harga penawaran saham tersebut, maka perusahaan akan mendapatkan dana sebanyak-banyaknya sebesar Rp 35 miliar sampai dengan Rp 39.2 miliar. Masa penawaran umum pada tanggal 22 Oktober sampai dengan 28 Oktober 2021. Dana akan digunakan untuk pembelian bahan baku, bahan penunjang, biaya operasional, dan biaya pemasaran.

Gambar : Liabilitas, Ekuitas, dan Aset Perusahaan

Jika kita melihat gambar grafik diatas, sekilas pertumbuhan aset, liabilitas, dan ekuitas luar biasa. Pada tahun 2018 aset perusahaan sebesar Rp 3.74 miliar dan pada tahun 2021 bulan Maret, aset perusahaan sebesar Rp 80.26 miliar. Kenaikan signifikan ini disebabkan oleh kenaikan ekuitas perusahaan. Peningkatan ekuitas yang signifikan ini disebabkan adanya perubahan modal dasar perusahaan dari Rp 3.527 miliar menjadi Rp 45.7 miliar pada bulan Maret 2021. Selain itu ada tambahan modal disetor sebesar Rp 16.3 miliar. Pada bulan Maret 2021, ekuitas perusahaan sebesar Rp 65.94 miliar dari Rp 130 juta pada tahun 2018.

 

Gambar : Laporan Laba Rugi Bulan Agustus 2020 dan 2021

Pendapatan perusahaan hingga bulan Agustus 2021 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2020. Penjualan pada tahun 2021 sebesar Rp 46.07 miliar, sedangkan penjualan pada tahun 2020 sebesar Rp 43.87 miliar. Penjualan mengalami peningkatan sebesar 5%. Berbeda dengan penjualan, laba kotor mengalami penurunan sebesar 13%. Penurunan laba kotor ini disebabkan oleh naiknya beban pokok penjualan sebesar 12%. Begitu juga dengan laba operasi yang mengalami penurunan sebesar 10%. Penurunan laba kotor dan laba operasi juga mengerek turun laba bersih perusahaan sebesar 11.5%, dari Rp 12.78 miliar pada tahun 2020 menjadi Rp 11.31 miliar pada tahun 2021. Adanya pandemi Covid-19 sepertinya tidak berdampak signifikan terhadap penjualan perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari penjualan yang meningkat tahun ini jika dibandingkan dengan tahun lalu. Kita tahu bahwa konsumen dari perusahaan adalah gerai-gerai minuman yang biasanya terletak di Mall, bandara, dan kafe. Walaupun dengan adanya pembatasan kegiatan masyarakat, permintaan produk perusahaan dari gerai tersebut tidak mengalami penurunan. Penurunan laba bersih disebabkan oleh meningkatnya beban penjualan pokok dan beban usaha. Peningkatan paling besar pada beban usaha adalah biaya iklan dan promosi serta pameran. Peningkatan biaya tersebut merupakan salah satu strategi perusahaan untuk meningkatkan penjualan ke segmen retail.

Gambar : Laporan Laba Rugi 2018-2020

Mengacu pada laporan laba rugi perusahaan dalam 3 tahun terakhir, penjualan perusahaan mengalami kenaikan yang signifikan. Pada tahun 2018, penjualan sebesar Rp 2.42 miliar dan pada tahun 2020 penjualan sebesar Rp 68.57 miliar. Peningkatan yang luar biasa dalam waktu yang singkat. Penjualan pada kuartal I tahun 2020 berkontribusi sebesar 33.8% dari total penjualan tahun tersebut. Perusahaan masih mengalami kerugian pada tahun 2018, namun pada tahun berikutnya perusahaan mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp 17.53 miliar dan berlanjut pada tahun 2020, ketika pandemi terjadi, perusahaan masih mampu mencatatkan laba positif sebesar Rp 18.8 miliar.

Gambar : Laporan Arus Kas 2018-2020

Arus kas dari aktivitas operasi perusahaan mengalami perbaikan pada 2 tahun terakhir setelah pada tahun 2018, arus kas operasi bernilai negatif. Pada tahun 2019 arus kas operasi sebesar Rp 13.27 miliar dan meningkat pada tahun berikutnya menjadi Rp 25.61 miliar. Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya penerimaan dari pelanggan sebesar 97% yang akhirnya berdampak terhadap arus kas operasi perusahaan. Dari sisi arus kas investasi, perusahaan juga mencatatkan pertumbuhan yang baik. Negatif pada kas investasi mengindikasi adanya penambahan aset perusahaan. Pada tahun 2020, arus kas investasi sebesar Rp 29.17 miliar. Sama seperti arus kas investasi, arus kas pendanaan yang baik adalah bernilai negatif. Namun pada tahun 2020 arus kas pendanaan perusahaan bernilai positif. Hal ini disebabkan adanya pembayaran uang muka penjualan dari penerbitan saham baru sebesar Rp 4.5 miliar. Jika kita lihat dari arus kas perusahaan dalam 3 tahun terakhir, arus kas perusahaan masih dikatakan baik dikarenakan kas operasi meningkat, begitu juga dengan investasi perusahaan yang meningkat serta aktivitas pendanaan yang baik. Arus kas pada 3M21, arus kas operasi bernilai negatif yaitu sebesar Rp 6.17 miliar. Negatifnya arus kas operasi ini disebabkan penurunan penerimaan dari pelanggan. Dari sisi investasi, perusahaan masih aktif dalam perolehan aset baru. Dari sisi kas pendanaan, perusahaan mendapat tambahan dana dari modal disetor sebesar Rp 30 miliar.

Gambar : Rasio Profitabilitas 8M21

Mari kita lihat bagaimana kemampuan perusahaan menghasilkan laba melalui rasio profitabilitasnya. Return on Asset (ROA) perusahaan pada bulan Agustus 2021 sebesar 10.86%, sedangkan Return on Equity (ROE) sebesar 11.95%. Kedua return ini masih lebih baik jika dibandingkan dengan tahun lalu sepanjang bulan yang sama. Tahun lalu perusahaan hanya mampu menghasilkan return dibawah 5%. Kenaikan return ini mengindikasi adanya perbaikan perusahaan. Jika kita melihat margin laba perusahaan, margin laba kotor (GPM) sebesar 44.16% dan margin laba bersih (NPM) perusahaan sebesar 24.55%. Margin laba ini juga masih lebih baik jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Kembali turunnya kasus Covid-19 adalah salah satu sentimen positif bagi perusahaan. Hal ini dikarenakan kembali normalnya aktivitas masyarakat. Dengan dihilangkannya pembatasan kegiatan masyarakat, diharapkan adanya peningkatan dari sisi konsumsi terutama pada sektor makanan dan minuman. Peningkatan ini akan ikut mengerek permintaan produk-produk perusahaan dari konsumen-konsumen perseroan ataupun konsumen ritel.

Salah satu tantangan bagi perusahaan adalah ketersediaan bahan baku pembuatan boba yang berasal dari tepung tapioka. Perusahaan membeli bahan baku dari luar negeri. Salah satu resiko membeli bahan baku dari pemasok luar negeri adalah adanya fluktuasi kurs nilai tukar mata uang asing. Selain itu adanya gangguan ketersediaan pasokan dan keterlambatan pengiriman bahan baku menambah resiko bagi perusahaan. Dengan naiknya harga bahan baku dapat memperkecil margin laba bersih perusahaan karena perusahaan tidak dapat serta merta meneruskan kenaikan bahan baku kepada konsumen. Selain resiko bahan baku, resiko akibat adanya Covid-19 masih membayangi sektor konsumsi. Jika kembali terjadi kenaikan kasus infeksi dan pemerintah mulai memberlakukan kembali pembatasan kegiatan masyarakat, tentu dapat berpengaruh kepada permintaan produk-produk perusahaan. Perusahaan juga perlu melakukan inovasi-inovasi baru mengikuti bagaimana perilaku konsumen karena perusahaan yang bergerak dibidang makanan dan minuman harus selalu mengikuti tren konsumsi masyarakat. Jika tidak dapat memenuhi permintaan masyarakat, maka dapat dipastikan perusahaan tidak dapat berkembang kedepannya. Ditambah lagi, minuman boba seakan lekat dengan “tren” para kaum muda, sekiranya tren ini tidak dapat berubah menjadi “budaya”, maka tentunya perkembangan perusahaan akan terbatas.

Secara keseluruhan, pendapatan perusahaan masih bertumbuh hingga tahun ini yang dapat kita lihat melalui pendapatan sepanjang tahun 2021 hingga bulan Agustus. Setelah peningkatan yang signifikan pada pendapatan tahun 2019 dan 2020, diperkirakan tahun ini pendapatan tidak akan meningkat signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya dan kemungkinan akan stagnan pada tahun ini. Fundamental perusahaan cukup baik walaupun pertumbuhan ekuitas disebabkan adanya penambahan modal disetor. Saldo laba juga masih mengalami peningkatan dari tahun-ketahun. Dari sisi likuiditas, liabilitas perusahaan masih dikatakan kecil dikarenakan pada bulan Maret 2021 liabilitas perusahaan sebesar Rp 14.32 miliar sedangkan ekuitas sudah sebesar Rp 65.94 miliar.

Saham BOBA ditawarkan dengan range harga Rp 250 – 280 per lembar sahamnya, dengan jumlah lembar saham yang diterbitkan berjumlah 1.1 miliar lembar saham dan laba bersih tahun 2020 yang mencapai Rp 18.8 miliar maka EPS BOBA berkisar di Rp 15.66, dengan itu kita dapat memproyeksi PE Ratio di harga IPO BOBA yakni dalam rentang 16 – 18x, angka yang tidak terlalu rendah.

Bagaimana? Kamu tertarik dengan perusahaan ini?


Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.

2021 © Cuanderful Indonesia

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *