IPO ADMR, Anak Perusahaan ADRO. Menarik Dikoleksi?

PT Adaro Minerals Indonesia Tbk, anak perusahaan ADRO berencana untuk melantai di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan akan menerbitkan 6 miliar lembar saham baru yang merupakan 15% dari total lembar saham. Harga penawaran berada pada rentang Rp100 hingga Rp125. Dari hasil IPO ini ADMR akan mendapatkan dana segar maksimal sebesar Rp765 miliar. Dana ini akan digunakan untuk beberapa keperluan, apa saja itu? Menarikkah untuk mengoleksi ADMR? Mari kita bahas!

PT Adaro Minerals Indonesia Tbk yang kemudian memiliki kode ticker ADMR berdiri pada tanggal 25 September 2007 dengan nama awal PT Jasapower Indonesia. Perubahan nama dilakukan pada tanggal 1 September 2021 atas keputusan pemegang saham perusahaan. ADMR merupakan salah satu perusahaan dibawah naungan PT Adaro Energy Tbk (ADRO).

Sebelum listing di Bursa Efek Indonesia, ADRO memiliki 81.76& saham ADMR. Perusahaan bergerak dibidang pertambangan dan perdagangan batubara metalurgi melalui perusahaan anak dan menjalankan jasa pertambangan serta konsultasi manajemen.

Saat ini ADMR memiliki satu anak perusahaan penyertaan langsung yaitu PT Alam Tri Daya Indonesia (ATDI) dan lima perusahaan penyertaan melalui ATDI, yaitu PT Lahai Coal (LC), PT Maruwai Coal (MC), PT Sumber Barito Coal (SBC), PT Kalteng Coal (KC), dan PT Juloi Coal (JC). Kelima anak perusahaan penyertaan tidak langsung tersebut memiliki konsesi tambang yang berlokasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur dengan luas total sebesar 146,579 hektar.  Keseluruhan konsesi tersebut pada Agustus 2021 memiliki sumber daya sebesar 980 juta ton dan cadangan sebesar 170.7 juta ton batu bara metalurgi berkualitas tinggi.

Perusahaan merupakan produsen batu bara Hard Coking Coal (HCC) pertama dan satu-satunya di Indonesia. Pada laporan keuangan yang berakhir Agustus 2021,  99.8% pendapatan ADMR berasal dari MC melalui ADTI. Mari kita cek bagaimana profitabilitas perusahaan!

Gambar : Pendapatan dan Laba Bersih

Pendapatan ADMR hingga Agustus 2021 tahun ini sebesar USD207 juta, naik 176% dibandingkan tahun lalu. Kenaikan signifikan ini disebabkan oleh kenaikan harga jual rata-rata batu bara sebesar 75% dan kenaikan volume penjualan sebesar 59%.

99% pendapatan ADMR berasal dari penjualan batu bara melalui entitas anaknya. Laba bersih ADMR ikut terdongkrak, berbalik dari rugi menjadi untung sebesar USD45 juta. Secara historis, pendapatan ADMR cukup fluktuatif yang tentu saja penyebabnya adalah fluktuasi harga komoditas batu bara. Hal ini yang kemudian menyebabkan laba bersih ADMR juga mengalami fluktuasi.

Dalam 3 tahun terakhir ADMR terus mengalami kerugian dan baru pada tahun 2021 berbalik laba. Apa penyebabnya? Beban pokok pendapatan lebih besar dari pendapatan itu sendiri. Apakah semua perusahaan perusahaan tambang batu bara seperti ini? Tentu tidak! Beberapa perusahaan masih menghasilkan laba pada tahun-tahun tersebut. Tentunya penyebab ruginya perusahaan dari dalam perusahaan sendiri akibat tidak efisiennya perusahaan terhadap beban-bebannya. Berbalik labanya ADMR pada tahun 2021 adalah hal yang sangat wajar karena semua perusahaan batu bara juga begitu. Jadi tidak ada yang spesial dari sisi profitabilitas perusahaan.

Gambar : Neraca Keuangan

Lalu bagaimana fundamental ADMR?

Mari kita cek neraca keuangannya! Berdasarkan gambar grafik diatas, rentang tahun 2018 hingga tahun 2020, aset mengalami peningkatan dan baru pada tahun 2021 aset mengalami penurunan. Penurunan aset pada tahun 2021 disebabkan adanya penurunan aset lancar dan tidak lancar. Penurunan aset lancar terjadi pada bagian pinjaman kepada pemegang saham akibat pelunasan utang.

Bagian kas dan setara kas mengalami peningkatan 60%. Sehingga penurunan aset lancar ini bersifat positif. Pada bagian aset tidak lancar, penurunan terjadi di beberapa elemen seperti penurunan piutang, pajak aset tangguhan, dan pajak dibayar dimuka. Liabilitas mengalami peningkatan dari tahun-ketahun.

Tahun 2018 liabilitas sebesar USD337 juta dan tahun 2021 telah meningkat menjadi USD762 juta USD. Kenaikan liabilitas ini didominasi oleh liabilitas jangka panjang yang telah naik sebesar 144% sejak tahun 2018.

Bertolak belakang dengan liabilitas, ekuitas ADMR justru mengalami penurunan sejak tahun 2018. Penurunan pada tahun 2019 dan 2020 disebabkan oleh penurunan ekuitas merging entities karena adanya penurunan aset bersih perusahaan anak. Penurunan signifikan terjadi pada tahun 2021, yaitu sebesar 81% yang disebabkan oleh penurunan modal disetor yang dikarenakan selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas sepengendali.

Secara fundamental yang dilihat dari neraca keuangan, ADMR cukup buruk. Liabilitas terus bertumbuh sedangkan ekuitas terus mengalami penurunan.

Dengan IPO-nya ADMR maka akan mendongkrak nilai ekuitas perusahaan. ADMR akan memperoleh dana segar maksimal sebesar Rp756 miliar yang jika kita ubah dari USD sebesar USD52.55 juta. Dengan ekuitas saat ini sebesar USD49 juta, maka ekuitas setelah IPO akan menjadi USD101.6 juta.

Dana hasil IPO akan dialokasikan sebesar 60% untuk keperluan anak perusahaan, yaitu MC, untuk belanja modal berupa perbaikan dan peningkatan kapasitas infrastruktur pertambangan batu bara dan pendukungnya. 40% sisanya akan digunakan untuk membayar pokok atas pinjaman perusahaan.

Bagaimanakah prospek ADMR?

Jika kita melihat dari lini usaha perusahaan, pertambangan batu bara melalui anak perusahaannya, maka prospeknya sama saja dengan perusahaan batu bara lainnya. Cukup baik untuk tahun 2021 dan mungkin juga masih bagus untuk tahun depan selama harga acuan batu bara masih berada di atas USD100 per metrik ton.

Yang perlu diperhatikan adalah bukan ketika harga batu bara sedang tinggi-tingginya karena hampir semua perusahaan tambang batu bara akan untung, namun lihat dari harga acuan batu bara ketika mengalami tekanan terutama di bawah USD100 atau bahkan di bawah USD80 per metrik ton-nya. Kenapa? Karena jika harga batu bara berada di harga USD80 per metrik ton-nya maka seharusnya perusahaan sudah meraup laba. Jika pada tahun-tahun dimana harga batu bara terkontraksi perusahaan dapat tetap menghasilkan laba, maka bisa dikatakan perusahaan tersebut bagus dan sebaliknya.

Lalu bagaimana valuasinya?

Jika IPO-nya lancar dan terjual dengan harga tertinggi maka  ekuitasnya akan meningkat dua kali lipat menjadi USD101.6 juta dengan total 40.32 miliar lembar saham. Jika kita rupiahkan dengan nilai tukar saat artikel ini dibuat maka ekuitasnya sebesar Rp1.46 triliun, dengan laba bersih 2021 TTM sebesar USD35 juta atau setara dengan Rp 503 miliar, dengan begitu Price to Book Value di harga tertinggi IPO adalah 3.5x dan PE Ratio di harga tertinggi sebesar 10x

Secara kesimpulan, meskipun harga yang ditawarkan cukup menarik ketimbang emiten IPO pada umumnya serta kinerja yang baru ini recover, tapi kita bisa melihat ini adalah dampak dari kenaikan harga batu bara yang signifikan, dengan historikal yang belum terlalu teruji, jika harga batu bara kembali koreksi, bukan tidak mungkin akan berdampak dengan perusahaan. Terlebih, saat ini ada emiten batu bara yang lebih teruji dan harganya pun masih murah, sehingga perhatian kita bisa ditujukan ke arah itu.

Bagaimana Cuanvestor? Tertarik ikut IPO-nya?


Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.

2021 © Cuanderful Indonesia

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *