Mengenal Fenomena Window Dressing
Fenomena window dressing mungkin menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh para investor pasar modal Indonesia. Fenomena ini adalah fenomena dimana harga saham-saham di bursa efek Indonesia mengalami kenaikan pada akhir tahun. Mungkin Cuanvestor sudah pernah mendengarnya atau bahkan telah merasakan efek dari window dressing ini. Namun apakah sebenarnya window dressing ini dan apakah akan terjadi pada tahun ini? Yuk kita bahas!
Window dressing adalah sebuah fenomena yang identik dengan strategi manajer investasi atau pengelola dana untuk mempercantik atau memperbaiki kinerja portofolio investasinya sebelum dipresentasikan kepada klien. Biasanya manajer investasi ini akan menjual saham yang mengalami kerugian besar dan membeli saham-saham yang diperkirakan akan naik signifikan pada akhir tahun. Aksi beli saham oleh manajer investasi inilah yang membuat beberapa saham yang mereka beli mengalami kenaikan signifikan dikarenakan manajer investasi membeli saham tersebut dengan dana yang besar. Fenomena ini biasanya terjadi pada bulan Desember. Mari kita lihat return Indeks Harga Saham Gabungan dalam 25 tahun terakhir
Secara historis sejak tahun 1997, pada bulan Desember IHSG mencatatkan kenaikan sebanyak 23 kali dan hanya 1 kali mengalami penurunan sehingga probabilitas kenaikannya sebesar 96%. Kenaikan return IHSG tertinggi pada bulan desember adalah tahun 2003 dengan kenaikan sebesar 12.12% secara bulan ke bulan. Penurunan IHSG hanya terjadi pada tahun 2000 dengan return sebesar minus 3%.
Pertanyaan sekarang, apakah fenomena ini akan berulang pada tahun 2021? Bisa iya dan bisa juga tidak. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana pergerakan pasar kedepannya. Jika kita lihat dari kondisi pasar sejak akhir September, IHSG mengalami kenaikan yang cukup tinggi dan disertai naiknya beberapa saham secara signifikan. Salah satu sentimen positifnya adalah tingkat vaksinasi yang tinggi dan penurunan kasus Covid-19 yang menyebabkan mulai kembali normalnya aktivitas masyarakat. Purchasing Managers’ Index Manufaktur Indonesia pada bulan September mengalami kenaikan dan telah berada diatas nilai 50 yang mengindikasi para pelaku bisnis optimis dengan perekonomian kedepannya. Dari komoditas sendiri, kita lihat bahwa harga acuan komoditas mengalami kenaikan sehingga secara jangka pendek ikut mengerek naik harga saham-saham komoditas. Fenomena window dressing bisa saja terjadi ketika perusahaan merilis laporan keuangannya, perusahaan mencatatkan perbaikan atau kenaikan pada kinerjanya. Kita sama-sama tahu bahwa pada prinsipnya, secara jangka panjang harga saham akan selalu mengikuti kinerja emitennya. Jika kinerjanya bagus maka sahamnya akan naik walaupun tidak secara instan, sebaliknya jika kinerja sebuah perusahaan mengalami penurunan maka lambat laun harga sahamnya akan mengalami penurunan sejalan dengan penurunan kinerja perusahaannya.
Bagaimana sikap kita sebagai investor dalam menghadapi fenomena ini? Jika kita adalah seorang trader, mungkin saja momen ini adalah momen yang tepat untuk mendapatkan return yang tinggi. Namun jika kita adalah seorang investor yang membeli saham bukan berdasarkan momen tetapi berdasarkan fundamental perusahaan, maka fenomena window dressing ini seharusnya tidak diambil pusing dan hanya sekedar tahu saja. Tidak menjadikan momen ini sebagai alasan utama untuk membeli ataupun menjual saham. Seorang investor dengan prinsip value investing seharusnya membeli saham dikarenakan harganya yang murah dan menjualnya karena harganya telah berada diatas nilai intrinsiknya. Fenomena ini bisa saja berulang pada tahun ini dikarenakan ada aspek psikologis pasar yang menjadi pendorong tambahan bahwa window dressing ini akan kembali terjadi. Tapi sekali lagi, cukup sekedar tahu saja.
Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.
2021 © Cuanderful Indonesia

Responses