Inflasi Tertinggi di US, Kita Harus Apa?
Pada bulan Oktober lalu inflasi tahunan Amerika Serikat mengalami lonjakan yang signifikan hingga mencapai 6.2% dari sebelumnya 5.4% pada bulan September. Inflasi ini tercatat sebagai inflasi tertinggi sejak tahun 1990. Lonjakan inflasi ini disebabkan oleh kenaikan harga di berbagai sektor seperti kenaikan harga energi, harga kendaraan baru dan bekas, harga makanan, dan lainnya.
Akibat dari kenaikan inflasi yang tinggi ini dapat membuka peluang bagi The Fed untuk mempercepat pemberlakuan Tappering Off. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga inflasi AS begitu tinggi? Apa dampaknya bagi perekonomian global? Bagaimana AS menanggulangi tingginya inflasi negara tersebut? Mari kita bahas!
Sebelum kita masuk kedalam pembahasan tentang inflasi Amerika Serikat saat ini, mari kita mulai dari apa itu inflasi. Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Kenaikan harga dari satu atau dua barang belum bisa dikatakan inflasi kecuali bila kenaikan meluas pada barang lainnya. Di Amerika Serikat saat ini, inflasi bulan Oktober telah mencapai 6.2%, naik 1.2% jika dibandingkan dengan inflasi bulan September.
Jika kita melihat historikal inflasi Amerika Serikat dalam 10 tahun terakhir, inflasi cenderung stabil di bawah angka 4%. Inflasi sangat rendah terjadi pada tahun 2015 dan 2020. Pada tahun 2015 terjadi penurunan daya beli masyarakat yang disebabkan oleh musim dingin yang ekstrim dan terjadinya penurunan harga minyak dunia.
Sedangkan pada tahun 2020, terjadi pandemi Covid-19 yang menyebabkan terhentinya aktivitas masyarakat secara keseluruhan. Pabrik-pabrik tutup, orang-orang mengurangi konsumsi, tidak lagi makan di restoran, maskapai penerbangan berhenti, dan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Pandemi ini akhirnya berdampak pada melambatnya pergerakan roda ekonomi Amerika Serikat bahkan dunia. Yang terjadi tahun 2020 tidak jauh berbeda dengan tahun 2015 dimana daya konsumsi masyarakat menurun. Begitu juga dengan harga minyak dunia saat itu yang mencapai angka minus. Kedua faktor tersebut menyebabkan inflasi sangat rendah pada tahun 2020.
Apa yang terjadi pada tahun 2021 ini?
Setelah ekonomi AS runtuh tahun 2020 akibat pandemi, ekonomi tahun 2021 pulih lebih cepat dari yang dibayangkan. Penyebabnya adalah belanja negara yang besar dan serangkaian kebijakan The Fed. Apakah Cuanvestor tahu dengan paket bantuan dari presiden AS, Joe Biden?
Joe Biden mengeluarkan paket bantuan selama pandemi Covid-19 yang bernama The American Relief Plan senilai USD1,400 untuk sebagian besar rumah tangga pada bulan Maret dengan total anggaran sebesar USD 1.9 triliun. Stimulus ekonomi tersebut membuat AS kebanjiran uang tunai.
Paket bantuan ekonomi ini disinyalir mempercepat terjadinya inflasi. Ketika ekonomi mulai pulih, pabrik mulai beroperasi, restoran kembali buka, bisnis-bisnis mulai berjalan kembali, dan masyarakat mulai berbelanja lagi, suplai barang dan jasa tidak bisa memenuhi permintaan pasar. Daya beli masyarakat jauh lebih cepat pulih dibandingkan dengan pemulihan bisnis barang dan jasa tersebut.
Tentu saja ketika jumlah suplai barang dan jasa tidak dapat memenuhi permintaan pasar maka harga-harga akan mengalami kenaikan. Harga bahan energi mengalami kenaikan 30% secara tahunan, bensin naik 50% sepanjang tahun. Harga tempat tinggal naik 3.5%, makanan 5.3%, kendaraan baru 9.8%, mobil bekas dan truk naik 26%, pakaian naik 4.3%, dan lainnya.
Coba perhatikan gambar grafik dibawah ini terkait dengan Indeks Harga Konsumen.
Gambar diatas adalah grafik Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat dalam 1 tahun terakhir. Dapat kita lihat bahwa pada bulan Oktober terjadi kenaikan terhadap IHK dengan poin sebesar 276.72 poin. IHK ini adalah indeks harga yang mengukur harga rata-rata barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga. IHK merupakan indikator yang digunakan untuk menentukan tingkat inflasi suatu negara.
Lalu apa dampak tingginya inflasi AS?
Secara umum ketika inflasi terus mengalami peningkatan berarti mengindikasi peningkatan harga-harga barang dan jasa maka akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Pendapatan riil masyarakat akan turun sehingga standar hidup masyarakat akan ikut turun dan pada akhirnya akan menjadikan semua orang terutama orang miskin semakin miskin dikarenakan daya beli yang rendah.
Inflasi yang tidak stabil juga akan menciptakan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan ketika inflasi tidak stabil maka akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Inflasi juga akan berdampak kepada pasar saham dan secara historikal lebih berkaitan dengan dampak negatif. Salah satu alasannya adalah bahwa inflasi membatasi kemampuan The Fed untuk mengambil kebijakan.
Ketika The Fed mengambil sebuah kebijakan moneter yang ekspansif, salah satunya Tapering Off, maka kebijakan tersebut dapat membuat harga-harga saham menjadi turun karena biasa identik dengan kenaikan suku bunga setelahnya. Selain itu inflasi juga disertai dengan ketidakpastian sehingga investor cenderung tidak melakukan investasi sehingga berdampak pada penurunan harga saham.
Lalu bagaimana langkah pemerintah AS dalam menanggulangi tingginya inflasi saat ini?
Joe Biden telah mengambil langkah dengan akan segera menandatangani Rancangan Undang-Undang Infrastruktur senilai USD550 miliar. RUU ini diyakini dapat meredam laju kenaikan inflasi Amerika Serikat. Rancangan UU infrastruktur ini diharapkan dapat menciptakan pekerjaan baru dan meningkatkan perekonomian.
Selain itu kebijakan ini diharapkan dapat mempercepat pendistribusian barang dan jasa sehingga dapat mengisi kekosongan rantai pasokan yang pada akhirnya juga akan menurunkan inflasi AS. The Fed selaku pemangku kebijakan moneter sudah mengambil langkah dengan mempercepat Tapering Off yang akan mulai diberlakukan pada akhir bulan November ini.
Lalu apakah penerapan Tapering Off ini akan disertai dengan peningkatan suku bunga acuan?
Dalam FOMC, The Fed baru akan meningkatkan suku bunga acuan paling cepat pada akhir tahun depan. Namun perlu diperhatikan bahwa bisa saja The Fed mempercepat peningkatan suku bunga acuan jika kenaikan inflasi semakin tidak terkontrol.
Lalu bagaimanakah dampak kebijakan The Fed terhadap pasar Indonesia?
Tapering off pada tahun 2013 lalu cukup membuat keadaan bergejolak pada pasar keuangan Indonesia. Para investor asing yang saat itu mendominasi pasar modal Indonesia berbondong-bondong menarik keluar uang mereka dan memutuskan untuk menaruh dana tersebut di pasar modal Amerika Serikat karena dianggap lebih menarik dibandingkan dengan pasar modal Indonesia.
Efeknya rupiah melemah dari Rp 10 ribu menjadi Rp 12 ribu per dolar AS yang diikuti dengan jatuhnya IHSG ke level 4,200 dari sebelumnya berada level 5,200.
Namun hal berbeda saat ini dengan tahun 2013. Indonesia telah lebih siap dan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2013. Salah satunya Indonesia saat ini memiliki cadangan devisa sebesar USD 145.5 miliar pada bulan Oktober. Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8.5 bulan impor atau 8.3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional bulan impor.
Menurut Bank Indonesia cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Dari sisi pasar modal Indonesia, saat ini telah didominasi oleh investor domestik yaitu sebesar 57.85% dari total investor pasar modal Indonesia. Melihat dari beberapa indikator tersebut, Indonesia dinilai telah lebih siap dalam menghadapi kebijakan-kebijakan The Fed.
Jika kita ambil kesimpulan dari fenomena ini…
Bayangan inflasi masih terus membayangi Amerika saat ini, sehingga rancangan awal yang dikabarkan the Fed untuk menaikkan suku bunga di akhir 2022 nanti masih dipertanyakan.
Sebenarnya kenapa isu tapering saat ini tidak terlalu ditakutkan ya karena the Fed berkata kenaikan suku bunga dapat ditunda, yang ditakutkan dari dampak tapering off adalah kenaikan suku bunga yang akan berefek kepada berkurangnya minat investor pada equity market dan memindahkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman, itu sebenarnya benang merahnya
Untuk itu, saat ini isu inflasi bisa kita jadikan salah satu risiko yang mungkin terjadi karena akan mengakibatkan kenaikan suku bunga nantinya, jika the Fed menaikkan suku bunga, tentu akan ada dampak ke suku bunga dalam negeri meskipun dari sisi inflasi kita belum pulih.
Sampai saat ini, belum ada yang harus terlalu dikhawatirkan namun just prepare for the worst karena bayangan isu ini sudah semakin nampak. Kami berkekspektasi bayangan ini akan lebih jelas di tahun 2022 nanti, harapannya sebelum itu terjadi, harga saham yang masih salah harga saat ini dapat memperbaiki performa harganya terlebih dahulu.
Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.
2021 © Cuanderful Indonesia

Responses