Blibli.com Akan IPO, Apakah Bernasip Sama Dengan GOTO dan BUKA?

PT Global Digital Niaga Tbk dengan kode saham “BELI” atau yang lebih dikenal dengan Blibli akan segera melantai di Bursa Efek Indonesia. Blibli merupakan salah satu dari sekian banyak perusahaan teknologi yang bergerak di lini bisnis e-commerce di Indonesia. Selain itu, Blibli bukan satu-satunya e-commerce yang ada di bursa, ada GOTO dan BUKA yang lebih dulu mencatatkan sahamnya di BEI.

GOTO dan BUKA sukses melantai di bursa dengan nilai IPO yang fantastis dan berhasil menjadi salah dua emiten dengan nominal IPO terbesar di Indonesia. Jika IPO Blibli sukses, nilai IPO-nya akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan kedua pendahulunya. Namun jalan IPO-nya bisa saja tidak berjalan mulus karena persepsi pelaku pasar terhadap GOTO dan BUKA kurang bagus saat ini akibat kinerja yang masih merugi dan harga saham yang anjlok cukup dalam. Apakah persepsi tersebut akan menghalangi kesuksesan IPO Blibli mengingat ketiganya berada pada lini bisnis yang sama? Atau malah Blibli menjadi titik balik image perusahaan e-commerce? Mari kita bahas!

Sebelum kita mengulik lebih jauh tentang Blibli, kita akan melihat latar berlakang perusahaan terlebih dahulu. Blibli didirikan pada tahun 2011 silam dengan nama PT Global Digital Niaga dan merupakan pelopor ekosistem belanja dan gaya hidup omnichannel di Indonesia. Blibli tidak hanya melayani konsumen secara online melalui layanan e-commerce saja, melainkan juga secara offline melalui toko fisik dari beberapa mitra. Sebelum IPO, pemegang saham pengendali perseroan adalah PT Global Investama Andalan (GIA) yang merupakan perusahaan milik Hartono bersaudara, sehingga Blibli ini masuk ke dalam Grup Djarum.

Gambar : Laporan Laba Rugi BELI

Selanjutnya kita akan masuk kepembahasan laba rugi perusahaan. Tren pendapatan Blibli sejak tahun 2019 terbilang cukup bagus karena terus mengalami kenaikan. Dalam hal pendapatan, Blibli membagi segmen pendapatannya ke dalam empat segmen, yaitu Ritel 1P, Ritel 3P, Institusi, dan Toko Fisik.

Pendapatan segmen Ritel 1P dan Institusi dihasilkan dari penjualan barang dan jasa yang dibeli perseroan secara grosir dan dijual langsung ke konsumen, segmen Ritel 3P dihasilkan dari biaya jasa platform online, sedangkan untuk Toko Ritel bersumber dari penjualan offline. Jadi bisa dilihat, seperti slogannya yaitu “Online Mall”, mereka menyediakan produk yang diambil secara grosir dan dijual kembali ke konsumer akhir, jadi Blibli ini tidak hanya sebagai fasilitator antara penjual dan pembeli saja, melainkan mereka juga melakukan penjualan produk.

Belajar cara trading yang benar secara sederhana di CTC ! Dapatkan akses selamanya!

Sampai saat ini segmen Ritel 1P lah yang menjadi kontributor pendapatan terbesar Blibli. Namun seperti selayaknya retail mart, margin laba kotor dari segmen ini kecil sekali, yaitu di bawah 5%. Hal ini disebabkan beban pokok pendapatan yang besar.

Sedangkan untuk urusan margin, margin laba kotor terbesar berasal dari segmen Toko Fisik. Secara keseluruhan, beban pendapatan pokok dan beban operasional Blibli sangat besar, sehingga menggerus pendapatannya. Hal inilah yang menyebabkan Blibli selalu mencatatkan kerugian.

Gambar : Laporan Laba Rugi BELI, BUKA, dan GOTO

Blibli bukanlah satu-satunya perusahaan e-commerce yang terus-menerus mengalami kerugian. BUKA dan GOTO, yang lebih dahulu IPO, juga mengalami hal yang sama. Penyebab ketiganya rugi juga hampir sama, yaitu karena beban pendapatan pokok dan beban operasional yang sangat besar. Dari ketiganya, GOTO mencatatkan kerugian bersih yang sangat besar dan kerugiannya terus meningkat. Berdasarkan pendapatan, Blibli jauh lebih unggul dibandingkan dua pesaing lainnya.

Gambar : Neraca Keuangan BELI

Jumlah aset Blibli per Juni 2022 mencapai Rp15.88 triliun. Jika kita bandingkan dengan dua pendahulunya ketika belum IPO, jumlah aset Blibli lebih besar dari aset BUKA yang sebesar Rp2.75 triliun, namun jauh lebih kecil dibandingkan aset GOTO yang mencapai Rp148.2 triliun.

Jika kita melihat liabilitasnya, tren liabilitas Blibli terus mengalami peningkatan.Berdasarakan prospektusnya, per Maret 2022, Blibli memiliki utang bank sebesar Rp4.06 triliun kepada beberapa bank di Indonesia. Kemungkinan per bulan Juni utangnya meningkat jika kita lihat dari total liabilitasnya, namun tim tidak mendapat detailnya sehingga tidak dapat memastikan yang meningkat utang bank atau komponen liabilitas lainnya.

Setelah membahas kondisi keuangan Blibli, kita akan masuk kepembahasan IPO-nya. Perusahaan akan melepas sahamnya sebanyak-banyaknya 17.77 miliar saham, setara dengan dengan 15% dari modal ditempatkan dan disetor. Perseroan menawarkan sahamnya direntang harga Rp410 sampai Rp460. Sehingga ketika seluruh sahamnya berhasil diserap maka Blibli akan mendapatkan dana segar maksimal senilai Rp8.17 triliun. Total dana yang diperoleh Blibli ini tentunya lebih kecil dibandingkan perolehan BUKA dan GOTO. Ketika IPO, GOTO memperoleh dana segar sebesar Rp13.73 triliun, sedangkan BUKA sebesar Rp21.9 triliun. Kapitalisasi pasar Blibli sendiri akan meningkat menjadi Rp48.57 triliun, dalam hal ini juga angka yang masih jauh di bawah BUKA yang sebesar Rp87.6 triliun dan GOTO yang sebesar Rp404.16 triliun.

Dana hasil IPO tersebut akan digunakan untuk beberapa peruntukan, yaitu yang pertama adalah sebesar Rp5.5 triliun akan digunakan untuk membayar utang perseroan kepada dua kreditur, yaitu bank BCA dan bank BTPN. Saat ini Blibli memiliki nilai pinjaman terutang pada masing-masing kreditur sebesar Rp2.75 triliun dan itu berarti dana IPO tersebut berhasil menutupi utangnya kepada dua kreditur tersebut. Dengan berkurangnya utang bank, maka beban keuangan Blibli juga akan mengalami penurunan. Akan tetapi, karena beban keuangan ini tergolong kecil porsinya, maka dampaknya tidak akan terasa bagi kerugian perseroan. Sementara, sisa dana IPO yang masih ada akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung kegiatan utama dan pengembangan usaha perseroan.

Lalu bagaimana prospek emiten ini? Apakah menarik untuk ikut ke dalam IPO-nya?

Karena permasalahan pada setiap e-commerce saat ini hampir sama, yaitu beban pendapatan pokok dan operasional yang sangat besar, maka salah satu kunci untuk mengatasi kerugian ini dengan melakukan efisiensi terhadap bebannya. E-commerce juga cukup terkenal dengan hobi membakar-bakar uang untuk iklan dan promosi yang tentunya menambah beban operasional perusahaan. Jadi selama e-commerce masih melakukan hal tersebut, kemungkinan besar kinerjanya akan terus merugi.

Secara nominal IPO, Blibli masih kalah dari dua pendahulunya, namun jika kita lihat dari kemampuan menghasilkan pendapatan, maka Blibli juaranya, meskipun tetap saja mencatatkan rugi bersih seperti emiten e-commerce lainnya. Saat ini sentimen emiten e-commerce cenderung negatif akibat BUKA dan GOTO yang harga sahamnya anjlok dalam. Bisa saja sentimen negatif ini juga berdampak kepada Blibli.

Namun ada sedikit hal menarik dari valuasi saham BELI ini. Berdasarkan prospektus, kita dapat mengambil angka Price to Book Value sebesar 3.14x – 3.34x, angka ini tidak jauh berbeda dengan angka PBV GOTO dan BUKA pada saat IPO kemarin, dimana masing-masing mereka juga memiliki PBV dalam rentang 2-3x.

Nah, yang cukup berbeda ada di Price to Sales Ratio (PSR). Tim terkadang suka membandingkan PSR ini jika memang emiten tersebut merugi, posisinya sebagai pengganti PER.

Untuk besaran PSR Blibli sendiri adalah sebesar 3.8x – 4.3x. Angka ini jauh lebih masuk akal dari pada pendahulunya dulu, yaitu GOTO dan BUKA, dimana masing-masing dari mereka memiliki PSR sekitar 90x dan 60x.

Dalam hal ini berarti, Blibli yang mampu membukukan laba sebesar Rp 18 triliun pada tahun 2021, menghargai dirinya sebesar Rp 48 – 54 triliun secara kapitalisasi pasar, sebagai pembanding GOTO yang memiliki pendapatan Rp 4.5 triliun pada tahun 2021, menghargai dirinya Rp 404 triliun pada saat itu. Begitu juga BUKA, memiliki pendapatan Rp 2.7 triliun, menghargai dirinya Rp 87.6 triliun. Amazing.

Jadi pertanyaan terakhir, akankah bernasib sama dengan pendahulunya? Salah satu indikator sudah menunjukkan persamaan yaitu mereka masih membukukan kerugian sehingga tentunya berdampak negatif, yang sedikit berbeda adalah terkait valuasinya, meski mahal, valuasinya tidak “segila” itu. Jadi kita bisa ekspektasikan harga sahamnya juga tidak terlalu terjun-terjun amat pasca hype IPO nya, kalaupun tidak naik, harusnya dia tidak kemana-mana. Tapi ingat, itu hanya di atas kertas yang mengharuskan demikian, hasil akhirnya tetap market yang menentukan.

Sehingga as an investor yang konservatif, kecil kemungkinan untuk tertarik dengan emiten yang seperti ini, karena pada dasarnya fundamental comefirst, baru kita berbicara valuasi. Lain cerita jika memang nantinya Blibli mampu untuk membukukan laba untuk mendukung prospeknya secara nyata, nah kalau cerita itu sudah datang, kita akan bahas kembali di segmen terpisah.

Bagaimana menurut Anda? Buy or Bye?


Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.

Informasi Tambahan :

  • Dapatkan update seputar pasar saham gratis di channel telegram dengan klik link disini!
  • Untuk kamu yang ingin menjadi trader mandiri, ikuti kelas trading dengan klik link disini!
  • Untuk kamu yang ingin menjadi investor mandiri, ikuti kelas investing dengan klik link disini!
  • Untuk kamu yang ingin tau saham pilihan tim Cuanderful untuk trading dan investing bisa ikuti membership Cuanderful+ dengan klik link disini!

2022 © Cuanderful Indonesia

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *