Omicron Merebak, Bagaimana Nasib IHSG?
Sejak pertama kali terkonfirmasi di Indonesia pada 16 Desember 2021, kasus baru virus Covid-19 varian Omicron terus mengalami peningkatan. Hingga artikel ini dibuat, jumlah kasus Omicron telah mencapai 19 orang. Menurut World Health Organization (WHO), virus varian ini memiliki tingkat penularan yang lebih cepat dibandingkan dengan varian yang lain. Hal ini pula yang menyebabkan virus ini menyebar dengan cepat keseluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Indonesia.
Munculnya varian Omicron ini banyak dikaitkan dengan pergerakan IHSG pada bulan Desember ini dimana IHSG cenderung stagnan. Hal ini tentu disebabkan adanya kecemasan pasar terhadap virus varian terbaru ini. Namun bagaimana dampak sebenarnya varian Omicron ini? Apakah kejadian beberapa bulan silam dimana IHSG terkoreksi cukup dalam kembali terjadi? Mari kita bahas!
Varian baru virus corona ini pertama kali terdeteksi pada awal November di Afrika Selatan. Tim Laboratorium di Afrika Selatan telah menemukan ciri yang tidak lazim pada sampel uji Covid-19. Beberapa laboratorium telah menunjukkan bahwa untuk satu tes PCR yang banyak digunakan, salah satu dari tiga gen target tidak terdeteksi. Varian baru ini telah mendominasi penularan di Afrika Selatan.
Pada 26 November, WHO menetapkan varian B.1.1.529 sebagai varian yang bernama Omicron dan diklasifikasi sebagai varian of concern (VOC). VOC adalah perubahan genetik yang mempengaruhi karakteristik virus seperti tingkat penularan, keparahan penyakit, kekebalan, dan pelepasan diagnostik virus. Omicron memiliki jumlah mutasi lebih dari 30 mutasi genetik. Beberapa mutasi ini dikaitkan dengan peningkatan penularan dan membuat virus ini mudah untuk mengikat dan menempel pada sel. Coba perhatikan gambar grafik dibawah ini, bagaimana terjadi peningkatan kasus Covid-19 pada bulan November.
Gambar : Kasus Baru dan Kasus Rata-Rata Dalam 7 Hari
Berdasarkan gambar diatas, terjadi peningkatan kasus Covid-19 pada bulan November. Peningkatan ini diduga berkaitan dengan Omicron dikarenakan varian ini memiliki banyak mutasi. Namun berdasarkan keterangan dari WHO, Omicron masih belum jelas apakah varian ini lebih cepat menular, menyebabkan penyakit yang lebih atau kurang parah, dan bagaimana dampak terhadap vaksin, dibandingkan dengan varian lain. WHO masih melakukan studi terhadap varian ini.
Gambar : Kasus Kematian dan Kasus Kematian Rata-Rata Dalam 7 Hari
Saat ini tentu kita belum dapat menyimpulkan bahwa kenaikan kasus Covid-19 secara global ini akibat varian Omicron atau bukan dikarenakan WHO sendiri masih melakukan studi. Namun jika kita melihat dari tingkat kematian dari Covid-19, tidak terjadi peningkatan kasus kematian secara global.
Hal ini berbanding terbalik dengan peningkatan kasus baru. Seburuk-buruknya jika memang benar peningkatan kasus Covid-19 ini diakibatkan oleh Omicron, ini tidak akan terlalu berdampak buruk dikarenakan tingkat kematian akibat varian ini tidak seperti varian-varian sebelumnya.
Lalu bagaimana di Indonesia?
Di Indonesia sendiri kasus Omicron pertama kali dilaporkan pada 15 Desember yang menginfeksi petugas Kebersihan Wisma Atlet, Jakarta. Secara riwayat, petugas kebersihan ini tidak pernah melakukan perjalanan ke luar negeri sehingga dapat disimpulkan petugas ini tertular dari WNI yang datang dari luar negeri dan melakukan karantina di Wisma Atlet. Kasus kedua dan ketiga berasal dari WNI yang baru kembali dari luar negeri. Kasus terus bertambah hingga berjumlah 19 orang.
Sampai saat ini belum ada laporan gejala yang berat, mayoritas mengalami gejala ringan dan tanpa gejala. Pemerintah Indonesia sendiri telah mengambil langkah cepat dengan memperpanjang aturan karantina dari lima hari menjadi 10 hari. Selain itu pemerintah telah meningkatkan tracing terhadap kasus-kasus Covid-19.
Bagaimana dampaknya bagi pasar saham Indonesia?
Merebaknya varian Omicron ini nampaknya menjadi salah satu sentimen negatif bagi pasar saham Indonesia. Sejak pertama kali diumumkan oleh WHO, IHSG terkoreksi cukup dalam yaitu sebesar 2.06%. Sepertinya mulai terjadi kepanikan terhadap varian Omicron.
Apalagi pemberitaan media massa dimana-mana terus membahas tentang Omicron yang cenderung kearah negatif sehingga menambah sentimen negatif terhadap pasar saham Indonesia. Tentu ini bukan tanpa alasan, pasar Indonesia sudah pernah terkoreksi sangat dalam ketika Covid-19 merebak. Para pelaku pasar nampaknya sudah mulai waspada jika hal terburuk terjadi seperti koreksi IHSG yang cukup dalam. Namun seiring berjalannya waktu, IHSG kembali menghasilkan return positif walaupun pada akhirnya kembali terkoreksi.
Apa yang harus kita lakukan ditengah merebaknya varian Omicron dan ketidakpastian pasar saat ini?
Sebenarnya sebagai investor kita tidak perlu panik. Indonesia telah jauh lebih baik dari tahun-tahun awal terjadinya pandemi. Tingkat vaksin Indonesia dosis satu tercatat sebesar 74.32% dan dosis dua sebesar 52.59%. WHO sendiri telah menyatakan bahwa hingga saat ini vaksin Covid-19 masih efektif untuk melindungi dari tingkat keparahan, rawat inap, dan kematian akibat infeksi varian Omicron selagi WHO melakukan studi.
Dari sisi fundamental ekonomi, Indonesia saat ini telah sangat baik. Mulai dari cadangan devisa, neraca perdagangan, indeks keyakinan konsumen, PMI Manufaktur, dan Lainnya. Cadangan devisa saat ini sebesar US$145.86 miliar, setara dengan pembiayaan 8.3 bulan impor atau 8.1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Selain itu posisi neraca perdagangan Indonesia kembali tercatat surplus sebesar US$3.51 miliar. Surplus neraca perdagangan telah terjadi 19 kali berturut-turut sejak bulan Mei 2020. Sepanjang tahun 2021, total surplus perdagangan Indonesia sebesar US$34.46 miliar, yang terbesar dalam 5 tahun terakhir. Begitu juga indeks keyakinan konsumen yang terus mengalami peningkatan yang mengindikasi optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi. Indeks keyakinan konsumen bulan November adalah yang tertinggi sepanjang tahun 2021. Dari sisi PMI Manufaktur, level saat ini sebesar 53.9 poin dimana mengalami penurunan dibandingkan bulan Oktober. Kendati demikian, level diatas 50 poin menyatakan tingkat ekspansif industri Indonesia.
Mungkinkah IHSG terkoreksi sangat dalam seperti ketika mulai munculnya Covid-19?
Dengan beberapa penjelasan diatas dimana mengindikasi bahwa Indonesia telah cukup siap menghadapi tekanan-tekanan yang dapat mempengaruhi ekonomi, salah satunya penyebaran varian baru virus Covid-19, Omicron, maka kecil kemungkinan koreksi besar akan terjadi.
Sebagai investor tentunya kita tidak perlu panik. Koreksi IHSG saat ini mungkin hanyalah karena sentimen negatif yang diakibatkan oleh berita-berita negatif yang mempengaruhi psikologis pasar. Koreksi ini merupakan koreksi yang bersifat sementara sehingga justru ini merupakan sebuah kesempatan kita sebagai investor untuk kembali mengoleksi saham-saham incaran Cuanvestor yang memang layak untuk dibeli.
Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.
2021 © Cuanderful Indonesia

Responses