Kisah UNTR Dan Kinerja Lini Bisnisnya
PT United Tractors Tbk (UNTR) baru saja merilis laporan kinerja perusahaan bulan November tahun 2021. Dari laporan tersebut ada salah satu segmen yang mengalami kenaikan sangat signifikan, yaitu segmen mesin konstruksi. Penjualan mesin konstruksi hingga bulan November 2021 tercatat sebanyak 2,950 unit, naik 99% dibandingkan tahun 2020 yang tercatat hanya sebesar 1,481 unit.
Kontribusi terbesar berasal dari mesin konstruksi sektor pertambangan. Sektor pertambangan memang sedang menarik sepanjang tahun 2021, sehingga ikut mendongkrak kinerja emiten-emiten turunan dari pertambangan tersebut, seperti UNTR. Namun bagaimanakah kinerja UNTR per segmennya? Jika bagus, menarikkah untuk mengoleksi UNTR? Mari kita bahas!
Pada intro diatas kita telah mengetahui salah satu segmen bisnis UNTR, yaitu mesin konstruksi. Namun tentunya itu bukan satu-satunya lini bisnis UNTR. Kita bahas dulu seputar profil perusahaan. UNTR berdiri pada 13 Oktober 1972 dan pertama kali melantai di Bursa pada 19 September 1989.
UNTR berada di bawah naungan dari ASTRA Group yang tentunya saja ASTRA adalah pemegang saham terbesar dengan memiliki 59.5% dari saham UNTR. UNTR memiliki beberapa lini bisnis diantaranya Mesin Konstruksi, Kontraktor Penambangan, Pertambangan Batu Bara, Pertambangan Emas, Industri Konstruksi, dan Energi. Lini bisnis energi saat ini masih dalam tahap perkembangan sehingga jika kita lihat laporan keuangan UNTR, lini bisnis ini tidak tercantum dalam bagian pendapatan UNTR.
Gambar : Segmen Mesin Konstruksi
Kali ini kita akan membahas satu-persatu lini bisnis UNTR yang dimulai dari segmen mesin konstruksi. Segmen ini merupakan segmen yang mengalami kenaikan signifikan dibandingkan dengan segmen lainnya. Segmen ini dibagi lagi menjadi empat kategori berdasarkan sektor yaitu perkebunan (agro), konstruksi (construction), kehutanan (forestry), dan pertambangan (mining).
Yang mencolok perhatian kita adalah sektor mining atau pertambangan. Penjualan unit dari sektor ini telah mendominasi sebesar 53% dari total unit yang terjual. Hal ini sejalan dengan sektor pertambangan yang bergairah sepanjang tahun 2021 lalu. Naiknya harga acuan beberapa komoditas tambang, terutama batu bara telah membuat para penambang batu bara untuk memproduksi lebih banyak lagi batu bara, sehingga memerlukan lebih banyak alat berat beserta suku cadangnya.
Hal ini tentunya berkaitan dengan segmen mesin konstruksi milik UNTR. Sebagai salah satu pemain besar pendistribusian alat berat dan suku cadangnya, bergairahnya sektor pertambangan membawa sentimen positif bagi UNTR, dibuktikan dengan naik signifikannya penjualan dari sektor ini. Tentunya tidak hanya dari sektor pertambangan, sektor lainnya juga mengalami peningkatan.
Gambar : Penjualan Segmen Mesin Konstruksi 4 Tahun Kebelakang
Jika kita melihat histori penjualan dari segmen mesin konstruksi, dengan total 2,950 unit hingga November, penjualan tahun 2021 masih kalah jauh dari penjualan tahun 2018. Perlu diperhatikan pada 2018 sektor pertambangan juga mengalami peningkatan terutama batu bara. Namun tidak menutup kemungkinan total penjualan satu tahun penuh nanti kembali mengalami peningkatan yang signifikan.
Gambar : Penjualan Segmen Pertambangan Batu Bara
Beranjak dari segmen mesin konstruksi, kita menuju segmen pertambangan batu bara. Lini bisnis ini dijalankan oleh anak perusahaannya, PT Tuah Turangga Agung. Total penjualan batu bara UNTR hingga bulan November lalu mencapai 8.48 juta ton. Naik tipis dari penjualan tahun 2020 yang tercatat sebanyak 8.24 juta ton. Jika kita melihat gambar diatas, secara tren memang akhir tahun penjualan batu bara mengalami penurunan dibandingkan dengan awal tahun. Ini sejalan dengan Indonesia yang mengalami musim hujan pada akhir tahun sehingga produksi batu bara sedikit mengalami hambatan. Namun hal ini adalah wajar.
Gambar : Volume Penjualan Segmen Pertambangan Emas
Tak jauh beda dengan segmen pertambangan batu bara, volume penjualan emas juga mengalami kenaikan yang kecil yaitu sebesar 2.7%. Volume penjualan 11M21 mencapai 307 GEOs (Gold Equivalent Ounces). Sebagai perbandingan, penjualan tahun 2020 sebesar 299 GEOs.
Gambar : Volume Produksi Batu Bara dan Pengelupasan Lapisan Tanah
Pada lini bisnis kontraktor penambangan, UNTR melakukan pengerukan lapisan tanah dan juga melakukan produksi batu bara. Volume pengerukan lapisan tanah mengalami peningkatan dari 762.9 juta bcm menjadi 781.8 juta bcm. Peningkatan ini tentunya sejalan dengan peningkatan produksi batu bara dari perusahaan batu bara seiring dengan meningkatnya harga acuan batu bara.
Selain bisnis dibidang pertambangan dan sektor terkait, UNTR juga bergerak dalam bidang konstruksi melalui anak perusahaannya yang diakuisisi pada tahun 2015 silam, PT Acset Indonusa Tbk (ACST). Tidak ada update kinerja dari segmen ini pada laporan kinerja bulan November, namun jika kita melihat public expose UNTR, segmen ini masih mengalami penurunan kinerja yang dapat dilihat dari turunnya pendapatan dari segmen ini. Ini adalah hal yang wajar mengingat industri konstruksi sepanjang tahun 2021 masih lesu.
Satu lagi segmen bisnis UNTR yang hingga laporan keuangan kuartal III lalu belum mencatatkan pendapatan yaitu segmen energi baru dan terbarukan (EBT). Segmen ini memiliki beberapa jenis pembangkit listrik ramah lingkungan yaitu Rooftop Solar PV, Hydro, dan Mini Hydro. Beberapa proyek EBT ini masih dalam tahap pengembangan sehingga wajar saja belum berkontribusi terhadap pendapatan UNTR.
Gambar : Pendapatan Per Segmen Bisnis
Kita telah membahas berbagai lini bisnis UNTR, lalu bagaimanakah kinerjanya keuangannya? Apakah sejalan dengan kinerja operasional?
Berdasarkan gambar diatas, pendapatan UNTR sejak awal tahun hingga kuartal III mengalami peningkatan di setiap lini bisnisnya. Peningkatan terbesar terjadi pada segmen mesin konstruksi yang meningkat 54% dan diikuti dengan segmen penambangan batu bara. Ini tentu sejalan dengan kinerja operasionalnya yang juga meningkat. Pendapatan UNTR pada 9M21 sebesar Rp57.82 triliun, naik 24% jika dibandingkan tahun 2020 pada periode yang sama. Laba bersihnya juga mengalami peningkatan, tercatat laba bersih sebesar Rp7.8 triliun. Sebagai perbandingan laba bersih tahun 2020 sebesar Rp6.0 triliun.
Dengan melihat kinerja operasional UNTR yang meningkat hingga bulan November 2021, kemungkinan besar juga akan ikut mendongkrak kinerja keuangan pada kuartal IV nanti. Pendapatan dan laba bersih UNTR diperkirakan naik dibandingkan dengan tahun 2020 diakibatkan naik signifikannya segmen mesin konstruksi.
Namun juga tidak menutup kemungkinan segmen lain juga mengalami peningkatan yang signifikan, salah satunya batu bara. Hingga tulisan ini dibuat, UNTR diperdagangkan dengan harga Rp23,525 dengan PER 10.35x dan PBV 1.33x. Bagaimana Cuanvestor? Tertarik untuk membeli sahamnya?
Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.
2022 © Cuanderful Indonesia

Responses