Manajemen Terus Buyback Saham, Bagaimana ADRO?

PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) kembali mengumumkan untuk memperpanjang masa pembelian kembali atau buyback saham perseroan. Ini ketiga kalinya ADRO memutuskan untuk memperpanjang masa buyback. Pertama kali perseroan memutuskan untuk melakukan buyback pada tanggal 27 September 2021 lalu dengan jumlah sebanyak-banyaknya Rp4 triliun. Ini merupakan langkah perseroan untuk mengatasi kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. Ketika itu harga saham ADRO sebesar Rp1,510, namun saat ini harga saham ADRO telah naik sebesar 94% per penutupan 20 Juni 2022. Dengan dilanjutkannya buyback ini, apakah harga saham ADRO masih murah? Mari kita bahas!

ADRO merilis keterbukaan informasi tentang rencana perpanjangan masa buyback pada 20 Juni 2022 lalu. Isinya adalah periode perpanjangan masa buyback yang dimulai sejak 20 Juni hingga 19 September 2022 atau paling lama 3 bulan sejak keterbukaan informasi tersebut dirilis. Aksi korporasi ini merupakan aksi lanjutan dari buyback yang dilakukan pada 27 September 2021 lalu. Tujuan dilakukannya buyback saat itu adalah untuk mengatasi fluktuasi pasar yang sangat signifikan dan untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap perusahaan. Rencana buyback saham paling banyak sebesar Rp4 triliun atau setara dengan US$280,702 ribu dan tidak melebihi 20% dari total modal disetor. Dana buyback ini berasal dari kas internal perusahaan sehingga aksi korporasi ini akan berdampak pada turunnya aset dan ekuitas sebanyak dana yang dikeluarkan.

Gambar : Kinerja Operasional PT Adaro Energy Indonesia Tbk

Bagaimana kinerja ADRO saat itu? Mari kita lihat kinerja ADRO per kuartal II 2021, sebelum rencana buyback dirilis. Pada semester I 2021, ADRO mencatatkan pendapatan sebesar Rp22.73 triliun, naik 16.59% dibandingkan semester I 2020. Meskipun pada periode tersebut total produksi dan penjualan batu bara mengalami penurunan masing-masing 3% dan 5% dibandingkan tahun 2020, pendapatan tetap mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan oleh naiknya harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batu bara mengikuti kenaikan harga acuan batu bara. Sejak awal Januari 2021, harga batu bara telah naik diatas US$80 per ton. Laba bersih perusahaan juga ikut mengalami kenaikan yaitu sebesar 11.45% menjadi Rp2.47 triliun pada semester II 2021. Kinerja ADRO semester I 2021 cukup bagus, adanya perbaikan kinerja setelah pada tahun 2020 cukup buruk akibat adanya pandemi. 

Gambar : Pergerakan Harga Saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk

Pergerakan harga saham ADRO sejak tahun 2019 hingga September 2021 bisa dikatakan stagnan, meskipun pada Maret 2020 sempat mengalami koreksi yang cukup dalam akibat panic selling. Kinerja ADRO berbanding harga sahamnya ketika itu bisa dibilang wajar. Sehingga harga sahamnya belum bergerak kemana-mana. Namun kita perlu ketahui bahwa harga saham juga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kinerja perusahaan kedepannya. Jika kita melihat harga acuan batu bara yang terus mengalami peningkatan, maka kinerja perusahaan diekspektasikan akan meningkat. Kita tahu bahwa harga acuan batu bara sangat berpengaruh terhadap ASP perusahaan yang kemudian akan berpengaruh pada pendapatan dan laba bersih. Kami berasumsi bahwa pihak perusahaan sudah memprediksi bahwa pada kuartal III 2021 nanti, ADRO akan mencatatkan pendapatan dan laba bersih yang besar, sehingga ketika harga sahamnya stagnan dari bulan Juni hingga September, maka ini keputusan yang tepat bagi perusahaan untuk melakukan buyback. Dan benar saja ketika laporan keuangan kuartal III rilis, ADRO mencatatkan kinerja yang sangat bagus.

Kinerja ADRO per September 2021 sangat bagus dibandingkan dengan tahun 2020 dengan pendapatan yang naik sebesar 26.18% menjadi Rp36.79 triliun. Begitu juga laba bersih naik signifikan sebesar 269.36% menjadi Rp6.03 triliun. ROE tercatat sebesar 10.41% berbanding 3% pada 2020. Bahkan pencapaian ini lebih baik dibandingkan dari tahun 2018 dimana harga komoditas juga berada diatas US$80 per ton. PER dan PBV tercatat sebesar 9.34x dan 0.97x berurutan. Sebenarnya harga saham ADRO sudah lebih dulu naik sebelum laporan keuangannya dirilis. Ini merupakan salah satu bentuk sentimen dari rencana buyback perusahaan. Namun pada akhirnya, aksi korporasi tersebut sesuai dengan prediksi bahwa kinerja perusahaan akan naik signifikan. Sehingga setelah laporan keuangannya rilis, harga sahamnya naik lebih tinggi lagi.

ADRO telah melakukan perpanjangan masa buyback sebanyak tiga kali yaitu, pertama pada 24 Desember 2021 sampai 23 Maret 2022, kedua pada 22 Maret 2022 sampai 21 Juni 2022, dan yang terakhir pada 20 Juni 2022 sampai 19 September 2022. Realisasi buyback hingga kuartal I 2022 sebesar US$114,888 ribu atau baru terealisasi sebesar 40.92%. Realisasi ini masih cukup jauh jika dibandingkan target sebesar US$280,702 ribu. Dengan diperpanjangnya aksi buyback ini, maka kemungkinan besar, pihak perusahaan masih menilai harga saham ADRO saat ini masih layak untuk dibeli.

Gambar : Pergerakan Valuasi PER dan PBV ADRO Sejak 2013

Bagaimana Kinerja ADRO terkini? Per Maret 2022, ADRO mencatatkan pendapatan sebesar Rp17.58 triliun, naik dibandingkan kuartal I 2021, namun turun jika dibandingkan kuartal IV 2021. Begitu juga laba bersih kuartal I 2022 tercatat sebesar Rp5.74 triliun, naik dibandingkan kuartal I 2021, namun turun dibandingkan kuartal IV 2021. Secara operasional, ADRO juga mencatatkan penurunan produksi dan penjualan batu bara. Hal ini disebabkan adanya larangan ekspor batu bara yang ditetapkan pemerintah pada awal tahun lalu. ROE secara TTM tercatat sebesar 27.5 % dengan NPM kuarter sebesar 32.67%. Secara profitabilitas, kinerja saat ini merupakan kinerja terbaik dalam 5 tahun terakhir. Secara valuasi, PER sebesar 5.38x dan PBV 1.48x. Mengingat profitabilitas ADRO yang bagus pada kuartal ini, maka secara valuasi ADRO masih murah. Namun jika kita melihat ada penurunan trend kedepannya, tentu valuasi saat ini akan berubah kembali.


Disclaimer : Segala informasi yang terdapat dalam artikel ini semata untuk tujuan edukasi dan tambahan referensi, bukan untuk tujuan rekomendasi terkait keputusan investasi maupun trading serta keuangan apapun. Setiap keputusan investasi maupun trading merupakan tanggung jawab masing – masing individu karena tujuan investasi maupun trading dan profil risiko perorangan akan berbeda satu sama lain.

2022 © Cuanderful Indonesia

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *